Heboh Ied 1433 H Agustus 2012

Mama, papa, kakak, abang dan zay, sesaat setelah sholat Idul Fitri dan beberapa saat sebelum boyongan ke Sumedang.

Say Cheezzzzz!

Idul Fitri memang waktu yang sangat menggembirakan. Bahkan si kecil Zay pun bisa mengendus aroma kegembiraan itu dan memberikan senyum terbaiknya. Say cheezzz...

Air Terjun "Curug Orok" Garut Jawa Barat

Papa dan Zay yang masih bayi 3 bulan alias masih pantas disebut orok berpose di depan lintasan air terjun orok. Dingin. Tapi alhamdulillah Zaydan ketawa-ketawa dan pulangnya tidak sakit.

Satu...Dua...Tiga....

Memanfaatkan masa rihlah bersama sahabat-sahabat, papa, mama, kakak, abang dan zay menikmati segarnya udara di air terjun curug orok, Garut. Alhamdulillah.

Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC

Bersama rekan-rekan wartawan saat melakukan kunjungan "foreign press tour" ke USA, sempat mampir ke Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC.

Monday, August 20, 2012

Heboh Ied 1433 H






Wednesday, August 15, 2012

Perjalanan

dari rumah dan kembali ke rumah...





Tuesday, January 10, 2012

Thx Allah, For Everything

Sungguh. banyak alasan bisa disebut kalau mau membuat hari-hari mendung di Jakarta jadi bertambah gelap. Baju yang baru saja diambil dari penjahit ternyata kekecilan. Padahal sang penjahit mengukur badan saya langsung dan bukannya sekedar berpatokan pada contoh baju jadi yang biasa dipakai. Dan jumlah bajunya lumayan banyak, empat. Dan bahannya bagus-bagus pula. Sedih, mangkel, kuciwa. Ya pastilah....

Lalu urusan memindahkan sekolah anak dari satu wilayah ke wilayah lain di sesama Jakarta ternyata memusingkan, melelahkan, menjengkelkan, menguras emosi dan menguras kantong! Si abang yang selama ini sekolah di Jakarta Barat sana -amboi jauhnya- harus berangkat jam 10 pagi dan tiba di rumah selepas isya alias kira-kira jam 20. Itu juga kalau nggak pake acara ketiduran karena terlalu lelah yang menyebabkan abang terbangun di halte busway nun jauh di sana dan harus berbalik.

Jadi begitulah, berbekal prasangka baik -dan surat edaran dari diknas bahwa pindah sekolah itu mudah dan cepat- si Abang dipindahkan. Satu dua sekolah yang didatangi memberi isyarat tak bisa menerima karena peminat pindah lebih banyak dari jumlah bangku kosong. satu dua sekolah lain memberi isyarat bisa diterima setelah menilai ini dan itu. Tetapi persamaan dari semua sekolah (yang ironisnya memasang spanduk besar-besar dan lebar-lebar di halaman sekolah: Menyelenggarakan Pendidikan Bebas Pungutan) ini adalah: ada "biaya" mutasi yang jumlahnya jut-jut rupiah dan benar-benar bikin jut-jut hati juga :c

Ada lagi soal rumah bocor. Oh, biasa menurut Anda? ah, nanti dulu. Rumah bocor memang biasa. Tapi persoalannya atap rumah berikut talang-talangnya baru saja dibenahi alias dibetulkan tukang (karena masalah bocor juga) kira-kira hmmm...enam? lima atau empat bulan yang lalu. Dananya waktu itu sudah jut-jutan juga. Masak sih sekarang harus renovasi lagi? aaaarrrrrgggghhh

Eh, rupanya itu ada kaitannya sama kucing. Ya kucing se RT dan mungkin se RW yang entah bagaimana ceritanya agaknya bermufakat bahwa rumah saya -atap dan loteng-loteng tepatnya- adalah kawasan strategis untuk mereka berkumpul, reuni, saling bersosialisasi termasuk bertengkar dan kawin!

Kucing-kucing ini sukses menggeser, meretakkan hingga merontokkan genteng, menjebol langit-langit, meninggalkan hasil pupnya di halaman dan menjumpalitan pot-pot bunga saya hingga tanaman berikut tanah dan pupuknya terbongkar dan berserakan di teras depan rumah. ggggrrrr...

Lanjut.  pekan lalu saya beli baju secara online untuk si bayi 6 bulan. Baju merek tertentu yang diincar sizenya kecil buat tubuh si bayi. Sehingga biasanya saya beli satu size diatasnya. jadi kalau perlu size 6 saya harus ambil size 9. Sudah saya tulis lengkap-lengkap di mail pada si penjual online. Berikut beberapa mainan lucu. Tetapi apa mau dikata, begitu hari H tiba, datanglah ke rumah saya mainan lucu dengan baju pesanan yang ber-size 3! TIGA! Hwaaaa

Tapi itu belum seberapa. Keesokan harinya, pesanan mainan dari toko online lain datang lagi. Mengantarkan seekor gajah lucu bertipe pull and go, yang artinya tentu saja dipull bisa go! hehe. Di belakang si gajah, tepatnya digerobaknya tempat bersandar, ada semacam tali penarik. Begitu ditarik....krrrrrkkkk.....lalu srrrrrrrr si gajah meluncur lincah. Kereeen. Lucuuuuu. Si bayi pun tertawa penuh minat sambil meninggikan badan dalam posisi tengkurap ala ular kobra.
Lalu datanglah anak-anak tetangga kira-kira sejam setelah si gajah datang. Mereka sangat antusias melihat si gajah dan mulai berebut. si Kakak Kia dan si Atu Adik kemudian mulai menariki tali si gajah. Kkkkkkrr.... srrrrrrr.......krrrrrkkk......srrrrrrr bergantian. Sampai kemudian si kakak yang antusias itu menarik si tali gajah kuat-kuat, kkkkkkrrrrrrrrrrrrrrrrrkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk......  sssrt! lho! macet! si gajah cuma ngesot sedikit lalu berhenti. Dan setelah itu sang gajah pun berhenti dari kemampuan "go"nya karena sudah di "pull" dengan maksimal. Hyaaaaaaaaa.

Percayalah saudara-saudara. Mendung bisa semakin menghitam karena kejadian ini cuma terjadi di pekan lalu. Beruntun-runtun. Bertumpuk-tumpuk. Belum termasuk tumpukan pekerjaan di kantor dan tumpukan cucian baju dan tumpukan setrikaan lho yaaaaa.

Oh, rasanya ingin berteriak, marah-marah, lempar kursi *lebay* dan manyun tiga hari tiga malam. Tapi....eh...hmm...tahu-tahu mikir.Tenang...tenang...sabar...sabar...kalau berteriak dan marah apakah bocornya jadi mampet? nggak . Apa gajahnya jadi maju. Nggak. Apa bajunya jadi longgar. Mungkin kalau karena sedih terus gak napsu makan terus jadi  kurus *ngarep. Apalagi manyun tiga hari pasti nggak enak. Nggak enak dilihat dan nggak enak dijabaninnya.

Ya iyalah. Selain ada adik bayi yang super lucu, dan ganteng dan keren dan menggemaskan itu, kalau mau fair, masih banyyaaaaaaaaaaaaaaaak hal indah lain yang patut dikenang dalam pekan yang mendung dan muram ini. Oke, tugasku sekarang adalah mencoba tarik nafas dan mengingat-ingat segala yang indah itu. Apa ya?

Satu: bahwa si abang toh akhirnya akan sekolah di sekolah yang cukup dekat dari rumah. sehingga tidak kecapekan dan makan banyak ongkos. sip. Dua: di kulkas ada tiga botol bumbu dasar siap pakai yang memudahkan banget kalau mau masak dan itu adalah hasil bikinan sendiri dari selama 15 tahun cuma niat doang mau bikin. sip. Tiga: Bos pulang dari dinas ke Riau dan Papua dan membawakan kain khas Riau dan Papua. sip. Empat: Adik bayi senang mainin si gajah terutama gigit hidungnya :D. sip. Lima: Kakak sudah pintar goreng ayam dan bikin sayur bayam. sip. Enam: Abang rajin cuci piring dan beberes rumah. sip. Tujuh: Kulkas sekarang sudah bisa bikin es batu mengeras. sip. Delapan: USB nenek yang hilang ketemu. sip. Sembilan: dua dari 4 baju yang kekecilan dibeli kakak tertua. sip. Sepuluh: musim hujan yang membawa hawa dingin sudah datang tapi miagliaku nggak kambuh. siiiip.

Wah, meski ini baru sebagian hal yang juga terjadi bersamaan di pekan lalu tapi semua sudah bikin senyum mulai merekah.Memang, soal sekolah itu masih harus tetap diurus. Baju juga perlu dipermak. Genteng bocor pastilah harus ditambal dan si gajah. Yah yang penting rodanya masih muter, bisa untuk didorong-dorong.

Tapi setidaknya saya mulai membiasakan diri untuk bisa mencari segala macam keindahan dan nikmat yang Allah berikan, sesuntuk apapaun situasi saya pada suatu masa. Saya tahu saya tidak bisa menghilangkan duka, sedih, marah atau kecewa saat suatu situasi tidak berjalan sempurna atau tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Tapi berlama-lama murung mendung jelas tidak enak dan tidak memberi solusi juga. Jadi inilah cara saya, berusaha memilih sikap terbaik dalam menghadapi hal-hal yang "buruk". Harapannya kalau suasana hati lebih cerah kan lebih mudah mencari pemecahan masalah.

So, baju sempit, rumah bocor, sekolah resek, mainan rusak. Itu fakta. Kenyataan. Tetapi ya Allah, terima kasih bahwa masih banyak hal lain yang membuat hidup tetap bisa terlihat indah. Alhamdulillah...



Tuesday, December 27, 2011

Nikmat Juga

Ini bukan berita baru sih. Soal macet di Jakarta yang saya maksud. Tapi sepertinya semakin hari semakin edan deh. Masak siy perjalanan dari Senayan ke Mampang saja sekarang harus ditempuh dalam waktu 2 jam. Parah banget kan. Macetnya yang nggak kira-kira itu juga ngeselin karena sebenarnya cuma terjadi di lokasi yang pendek-pendek tapi makan waktu lhuammma.

Mula-mula macet itu bermula dari depan Hotel Mulia sampai ujung Senayan sebelum belokan ke arah Pakubuwono. setelah itu boleh dibilang lumayan lancar jaya. Tapi kemudian macet lagi dari Mabes Polri sampai Terminal Blok M. Lalu lancar jaya lagi sampai senopati. lalu mhuacheeeet lagi sampai Mampang. Dan ini macet yang bener-bener ampun-ampunan....

Tapi, setelah merasa ingin ngedumel panjang pendek keki ampir tiap hari, sambil nyadar bahwa toh gak bakal bikin jadi lancar juga, mulai pekan lalu, saya langsung bertekad bulat *yah belum bulat banget sih, masih peyang dikit, karena kadang masih sedikit kesal, hehe* untuk bisa mencari jalan menikmati kemacetan ini. 

menikmati kemacetan? atau pasrah?

haha, pasrah mah udah pasti kaleee...tapi menikmati kemacetan? hmmm... ini baru tantangan...

maka, tekad pertama pun diwujudkan. Sayang mulai hampir tergoyahkan karena bis yang dinanti tak kunjung datang setelah 20 menit. Hyaaaaa.... saya tidak mau kalah oleh cobaan ini. Begitu ada bis 102 rute tanah abang blok m, saya nekat naik saja. yang penting ada kata-kata BLOK M nya kan.

waktu saya naik bis 102 ini dan tidak dapat duduk *alamak....baru mulai mau kepingin menikmati kok sengsara* saya berucap bismillah dan pasang senyum. Eh, serius, ternyata senyum bikin rasa sengsara sedikit berkurang. setidaknya saya dah merasa yakin dan mantap bahwa macet sambil berdiri ini toh akan berlalu juga. jadi nikmati sajalah.

Saya melihat ke kiri-kanan. Wah, orang itu macam-macam ya bajunya. Yang perempuan apalagi. Ada yang tampil formal dengan blazer atau dress rumbai, ada yang casual berjeans plus kemeja, sampai yang pakai naju ketat-celana ketat *duh saya sampai khawatir kalau dia turun dari bis yang makin lama kok ya makin penuh ini bajunya bisa robek kena gesek

Lalu saya mulai memperhatikan para pemakai jilbab. baik yang di bis maupun yang di jalan. Nah, gaya jilbabnya pun macam-macam. Dililit di leher, dililit di kepala, jilbab berlapis-lapis warna di ujung kepala, jilbab berlapis-lapis warna di pundak, jilbab dengan bordiran, jilbab dengan payet, jilbab dengan kepangan, jilbab dengan bendul seperti punuk di belakang kepala, jilbab kaos polos, sampai jilbab kaos dengan macam-macam variasi. 

Yah, tentu saja saya tahu bahwa jilbab itu ada banyak macamnya. Gini-gini kan saya pedagang jilbab untuk puluhan tahun *ah, lebay, 13 tahun tepatnya deh*. Tapi dengan serius dan sungguh-sungguh melihat jilbab yang melekat di kepala orang-orang dan menikmati keunikannya sepertinya ya jarang sih. Oh ya, hebatnya lagi, sebagian jilbab itu bahkan ada "namanya" lho. ada jilbab marisa, inneke, marshanda, jilbab cinta fitri, jilbab ayat-ayat ciinta, jilbab arshanty....halaaaaaaaaaaaaaah banyak kaliiiii

Sedang menikmati baju-baju dan jilbab-jilbab ini,  naik seorang perempuan dari depan senayan city. Perempuan muda dengan baju kemeja semi formal *ada rumbai-rumbainya dan rok selutut yang rapi ditambah tas bahu yang cantik. Hmmm....kayaknya sih ini yang bisa disebut gaya pekerja kantoran gitu. Tapi bukan itu yang buat saya jadi seru, melainkan tangannya yang asyik mendekap semangkok besar yogurt keluaran soursally yang sedikit demi sedikit disendoknya dengan asyik.

Eh, ini beneran lho. di bis yang penuh sesak. sehingga dia hanya bisa berdiri di tangga terbawah dekat pintu, sang perempuan muda ini dengan tabahnya memegang mangkok yoggurt dan mencuil sedikit demi sedikit. repot? ya....lumayanlah, namanya berdiri di tangga terbawah. tapi dia cuek saja tuh. tidak terpikir untuk meninggalkan yogurtnya *mungkin sayang, atau laper- dan tidak juga terpikir untuk bagi-bagi :D jadi dia asyik saja hap melahap sesendok yogurt. kunyem-kunyem-kunyem...hap...sesendok lagi. wuih

Bis melaju terus. kali ini belok kanan karena rutenya memang menuju mayestik. ah, lebih jauh dari rute biasanya. tapi tak apa. kan sudah berteked ingin menikmati. maka saya pun asyik melihat rumah-rumah dan toko-toko di pinggir-pinggir jalan. besar-besar ya. yang kecil juga ada sih. tapi yang jelas hampir semuanya cantik. Nah, saya jadi tahu kalau di sepanjang jalan menuju mayestik itu ada toko kue, resto kecil, salon, juga minimarket circle-K. 

Saat memperhatikan ke jalan yang macet berat itu saya juga bisa melihat bagaimana beberapa satpam toko atau resto malah asyik main catur, atau duduk-duduk ngopi atau malah nonton televisi. begitu pula beragam-ragam laki-laki dan perempuan *termasuk yang membawa anak* berdiri berjajar-jajar menawarkan diri untuk jadi joki 3in1

Dan oh ya, hebatnya di tengah macet berat dan polusi dari asap-asap knalpot kendaraan, masih ada bule nekat yang terus jogging dengan mantapnya. semakin lama penampakan si bule makin mengecil *karena jauh meninggalkan kita. Dan saya pun berpikir, mungkin mereka yang berkantor di senayan dan "cuma" menuju terminal blok m mendingan memilih jogging aja kali ya. waktu tempuhnya sama aja sepertinya dibanding naik bis yang ndut-ndutan kena macet :p 

tahu-tahu saya sampai di mayestik dan turun untuk ganti kendaraan. wow, ternyata gak terlalu berasa tuh macet-macet tadi. saya bisa menikmatinya dengan hati senang dan bibir terus tersenyum. apalagi kemudian bis lanjutan yang ingin saya naiki kosong, hanya diisi sekitar 10 orang saja. jadilah saya naik dengan sukacita. meluruskan kaki dan menikmati sekali lagi keriuhan Jakarta yang semakin gelap....

Wednesday, December 21, 2011

Anak anak Kita Dalam Bahaya; Ayo Tolong Mereka

Ini berawal dari sebuah keprihatinan. Sepulang sekolah pada hari Kamis (tapi entah kapan, saya ingat hanya Kamisnya saja) anak saya yang bersekolah siang tiba di rumah di waktu Isya.  Sambil melepas lelah, anak saya melihat tayangan televisi. Tak lama dia bercerita bahwa yang dilihatnya tadi acara bernama On The Spot. Lupa-lupa ingat sepertinya saya pernah sekali menonton acara ini yang menayangkan 7 Pulau Buatan Ter---- entah terbesar atau termewah atau terbaik atau apalah, lupa juga.

Sayangnya episode yang ditonton anak saya tidak seindah itu, mengerikan malah, karena menyajikan episode 7 Remaja Pembunuh Tersadis. Ya, anda tidak salah baca, dan karena itu saya yakin anda sepakat ketika saya memilih kata ‘mengerikan’.

Anak saya mau menceritakannya satu demi satu, tetapi baru satu bagian –saya tidak tega menceritakannya kembali- saya sudah bilang, “STOP, jangan lanjutkan. Mama ngeri mendengarnya, ayo kita sama-sama mengucapkan naudzubillahi min dzalik” Saya dan kedua anak remaja saja merapalkan doa itu. Dan saya menambahkan doa yang secara khusus saya tujukan pada anak-anak saya agar terhindar dari fitnah, maksiat dan marabahaya.

Jantung saya langsung berdebar-debar keras, karena kata remaja saja dikaitkan dengan kata pembunuh sepertinya sudah keterlaluan tidak matchingnya apalagi ditambah dengan kata sadis, makin membuat perut ini terasa melilit. Mungkin terutama karena saya punya anak remaja, sehingga setiap hal yang berkait dengan keanehan-keanehan perilaku remaja membuat saya semakin mudah mengkerut jiwa.

Saya tak suka diceritakan soal tayangan itu. Menakutkan dan tidak memberi kelegaan di tengah hidup yan terasa semakin sulit –dengan masalah korupsi, lingkungan rusak, sedot pulsa, macet parah, ancaman banjir, aaaarrrrrgghhhh…..

Dua jam kemudian di hari Kamis yang sama, suami yang sedang membuka halaman detik dotcom terkejut dengan satu berita dan menuturkan pada saya. Berita itu membuat suami saya prihatin dan saya kembali merasa mengkerut jiwa. Diberitakan seorang remaja lelaki usia 16 tahun, pelajar SMK, menebas dengan clurit  seorang remaja putri hingga akhirnya remaja putri itu tewas dalam perjalanan ke rumah sakit (kalau mau cek beritanya, ubek saja sendiri detik dotcomnya ya)

Ketika ditangkap, sang remaja penebas itu mengaku  salah sasaran karena sebenarnya dia bermaksud menebas remaja lelaki yang sedang memboncengkan si korban. Dia menyebut bahwa sang remaja lelaki yang dia incar adalah musuh bebuyutan sekolahnya. 

Maka malam itu saya lewatkan dengan perasaan campur aduk yang berkecamuk di dalam dada dan kepala. Saya merasa seperti mau menangis, saya mau marah, saya ingin berteriak dan sekaligus saya ingin memeluk anak-anak saya erat-erat. Ya Allah, ada apa dengan anak-anak kami, remaja-remaja kami di Indonesia… mereka yang pastilah dibuai sepenuh cinta di kala bayinya dan diharap-harap menjadi penerus terbaik para orangtuanya kok nyatanya tumbuh menjadi “monster-monster” yang menakutkan…

Berkaca pada kasus penebasan tadi, entah si pelaku salah sasaran atau tepat sasaran, bukan itu persoalannya. Tapi bahwa sang anak sekolah bawa-bawa clurit – ya, dia menebas dengan clurit- yang sudah disiapkan. Bahwa dia sudah mengincar sesosok remaja lain –manusia dengan ruh, jiwa dan raga- milik Allah. Bahwa dia mengatakan si incaran adalah berasal dari sekolah musuhnya. Bahwa tidak peduli siapa dan ada urusan apa, kalau itu anak sekolah X maka itu musuh gue karena sekolah X musuh sekolah gue. Sekolah punya musuh?
Naudzubillah, tsumma naudzubillah….

Saya jadi flashback, dan terpaksa memutar ingatan yang tadinya ingin coba dilupakan –setidaknya tidak sering-sering diingat. Tahun 2010 lalu keponakan saya masuk SMA favorit. Yang sedihnya juga dikenal sering terlibat tawuran. Tapi kakak saya berprasangka baik. Bahwa itu masa lalu. Dan menambah prasangka baik bahwa “setiap tahun toh anak didik berganti, masa iya musuhan lagi, sekarang sudah lebih baik dong, kan anak-anaknya sudah ganti” 

Dan kemudian dia menambah lagi prasangka baik bahwa insyaAllah anaknya tidak akan ikut tawuran karena sudah dibekali segala upaya seperti penjelasan, pengertian, pemahaman, nasihat, doa-doa dan bekal sekolah dasar dan menengah yang baik.

Maka keponakan yang menghabiskan masa SD di SD Islam Terpadu, masa SMP di Pesantren Terpadu, dan lulus dengan 8 juz hafalan quran ini memulai SMAnya di SMA Negeri favorit ini. Mulanya baik-baik saja sampai satu ketika dia menelepon bahwa dia ada di rumah sakit. 

Hah? Kecelakaan? Bukan. Dia mengantar temannya yang sakit. Sakit karena kepalanya ditimpuk batu.

Ya. Teman keponakan itu sedang berjongkok menanti bus untuk pulang sekolah ketika serombongan siswa –begitulah, banyak kejadian melibatkan “serombongan”, “sekumpulan”, apapun yang berujung keroyokan- datang dan kemudian salah seorang dari mereka menimpukkan batu yang lebih besar dari kepalan tangan, ke kepala si teman keponakan.
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Ya, teman ponakan ini tergeletak dan dan karena banyak orang datang segerombolan anak-anak penimpuk itu lari. Keponakan saya yang masih ada di sekitar situ datang menolong dan setelah mengontak beberapa teman membawa sang korban yang akhirnya ketahuan mengalami gegar otak dan sempat koma beberapa waktu lamanya- ke rumah sakit. Sedihnya, mereka sempat ditolak rumah sakit swasta terdekat karena mereka tidak bawa uang –ya saudara-saudara, mereka harus bayar uang 400 ribu sebelum si korban yang sudah pingsan begitu ditangani-

Beberapa hari kemudian, tepatnya 15 Juni tahun lalu, kali ini sang keponakan yang pulang dengan kepala, dada dan punggung luka-luka. Berdarah-darah. Di kepalanya bahkan ada luka menganga sepuluh senti panjangnya. 

Innalillahi wa inna ilaihi rojiuuuun. Ada apa? Ikut tawuran?
Tidak, sampai detik ini alhamdulillah dia tidak pernah ikut tawuran. –seperti tawuran itu lomba balap karung atau panjat pinang saja!-

Tapi yang ada, ketika dia menuju terminal bus –dan dia memang pulang sendirian- serombongan siswa yang tidak jelas siapa -kenal saja tidak, apalagi sempat punya masalah- mendatanginya dan mengeroyoknya begitu saja. Begitu saja. Keponakan saya hanya bisa menunduk terjongkok, menerima hantaman bertubi-tubi menderanya. Sampai orang-orang termasuk pak polisi datang menolong. Dimana kejadian itu? Kejadian itu berlangsung di siang hari, dan persis di depan terminal yang ramai dan bahkan tak jauh dari pos polisi-

Mereka yang menolong ya hanya menolong sang keponakan. Alhamdulillah ‘ala kulli haal, meski si penyerang yang kabur berpencaran entah kemana tak ada satupun yang tertangkap. Pak polisi pun hanya berkata bahwa anak-anak yang menyerang itu dari sekolah X, yang suka berantem dengan sekolah keponakan saya. Pak polisi ini lantas meminta keponakan saya untuk segera pulang, jangan mampir-mampir dulu.

Keponakan saya tentu saja pulang. Mau kemana lagi dengan punggung berdarah-darah dan luka menganga di kepala? Rumah sakit bukan pilihannya saat sendiri itu. Dia hanya terpikir: rumah.  dia pakai jaket warna gelap, sehingga barulah ketika di rumah dan meneliti lekat-lekat kita bisa melihat jelas luka-luka di punggung, dada dan di kepalanya yang sudah mengering.

Jiwa kakak saya mengkerut. Saya juga, padahal hanya diceritakan. Sempat kami akan lapor polisi. Tapi lha, kan siang itu juga si anak bahkan sudah dari pos polisi. Yang menolong juga polisi. Kami lantas hanya jadi geram-geram bingung plus resah, kira-kira begitulah.

Ketika esoknya kakak saya mendatangi sekolah dan menceritakan kejadiannya, jawaban yang didapat  dari gurunya membuat  terpana, karena dikatakan: Wah…anak ibu dipukulin ya? Tapi nggak apa-apa kan? Si Fulan –dia menyebut nama salah satu teman lain si keponakan- malah dibacok kemarin Bu…jadi kita memang harus hati-hati Bu, pulang pergi sekolah diantar saja. Malah anak-anak yang baik-baik dan pendiam tuh yang memang suka kena… #terhibur? Jelas tidak!

Sahabat, saya menuliskan ini dengan hati pedih, marah juga nelangsa.
Yang kita bicarakan ini anak-anak kita. Yang pada pundak merekalah nanti dipikulkan beban masa depan. Ketika anak-anak ini menjadi “monster” di usia muda, betapa mengerikannya wajah masa depan bangsa kita. Atau ketika anak-anak lainnya berhadapan dengan para “monster”,  juga sama mengerikannya masa depan bangsa kita –dan bahkan masa depan anak-anak korban “monster” itu sendiri-

Tapi saya masih percaya kalau semua anak itu pada dasarnya baik. Orangtua –dan lingkunganlah- yang membuat mereka jadi nakal, brutal, rusak, atau jadi “monster”. Lingkungan bermain, lingkungan sekolah, lingkungan media, lingkungan birokrasi, lingkungan umum lainnya.

Mungkin mereka dibesarkan dengan ketidakpedulian orangtua, kemiskinan cinta, kemiskinan penghargaan, kemiskinan sentuhkan kasih sayang, galaknya guru, mudah marahnya orangtua, persaingan keras tanpa kesantunan para pedagang, caci maki di televisi, baku hantam di komik, sentimen berbalur umpatan kebencian antar organisasi –sepakbola misalnya- ketidakjujuran birokrasi dan banyak lagi dan sering lagi

Ah, apapun, saya hanya ingin menjeritkan kata hati saya sebagai ibu, bahwa anak-anak kita dalam bahaya dan harus ditolong. Baik yang sedang dizalimi maupun yang sedang menzalimi. Sebagaimana Rasulullah pun berkata, “tolonglah saudaramu, baik yang terzalimi maupun yang menzalimi.”

Yang terzalimi ditolong agar selamat dari kezaliman. Yang menzalimi harus ditolong agar berhenti dari kezalimannya.

Anak-anak kita tidak bisa dibiarkan terus hidup dalam ketakutan dan “kesakitan”. Kita perlu orang-orangtua peduli yang mau bahu membahu menyelamatkan mereka. 

Mungkin kita sudah berupaya menyelamatkan anak kita, tapi itu tidak cukup. Kita juga perlu peduli menyelamatkan anak-anak orang lain, yang akhirnya juga akan berimbas pada selamatnya anak-anak kita. 

Kita harus memperbaiki diri kita, lingkungan kita, tetapi juga harus saling menolong. Saling mengingatkan. Saling berhubungan. Mungkin membangun komunitas orangtua yang bisa saling memberi informasi, saling menguatkan, dan saling menjaga anak-anak kita. 

Di sekolah, komite sekolah baru diisi segelintir orangtua murid sebagai perwakilan. Mungkin sudah saatnya perlu ada pertemuan rutin orangtua pertiga bulan misalnya, untuk saling kenal, saling sapa, saling tukar informasi. 

Komunitas orangtua ini pun perlu pula beranjangsana, setidaknya bertukar informasi, salam dan sapa dengan komunitas orangtua lain dari lain tempat, lain sekolah, atau lain wilayah.
Kalau dengan fesbuk saja kita bisa punya sekian ribu kenalan berbeda-beda, para orangtua remaja pun semestinya bisa kan saling berpadu mendidik anak bersama-bersama.

Atau ada ide lainnya? Yang jelas, anak-anak ini sesungguhnya tengah berteriak minta tolong. Tinggal bagaimana caranya kita bisa menjawab permintaan mereka. Sebelum semakin banyak kisah ngeri lain akan kita dengar menjadi berita…

Tuesday, December 20, 2011

Bayi Abad 21

Nabila lahir di tahun 1997
Shidqi lahir di tahun 1999

bersama si papa kita menikmati hidup berempat
"Seperti keluarga burung" -------- itu kata my lovely mom
Mom agaknya kerap melihat burung-burung di sarang yang punya anak hanya dua
*padahal banyak lho burung beranak 5, hehehe*

Sampai akhirnya, 
Zaydan datang, di tahun 2011

Waw, what a surprise! 
hehehe
serunya
lucunya
menggemaskan


Welcome, ahlan wasahlan, selamat datang
Zaydan Rahman Al-Kautsar
inilah si bayi abad XXI


 




Tuesday, November 22, 2011

Liburan

Saat berlibur



Tuesday, October 25, 2011

I'm Back

ya ampuuun....sampai lupa lho punya blog ini. karena berbagai kesibukan. trus pas ingat eh lupa password. alhamdulillah akhirnya bisa diutak atik dan kebuka lagi.


mudah2an akan lebih sering dikunjungi deh...

Thursday, March 23, 2006

Pening

Hari ini sibuk sekali. Sejak malam mengetik naskah yang harus naik cetak dan tak bisa ditunda lagi. Sementara telepon dari pengurus-pengurus Salimah yang minta aku bersiap-siap ikut kunjungan RDPU ke komisi 3 DPR tak kunjung berhenti.

Tegang rasanya. Mencari ide naskah, mengetiknya dalam kantuk yang tertahan, sementara separuh pikiran berkutat dengan persiapan mempersenjatai diri esok hari.

Pagi-pagi sudah nguber warnet untuk kirim naskah. Lalu ditengah rintik hujan yang terus turun sejak malam, meluncurlah aku menuju DPR bersama doi. Alhamdulillah, acara di komisi 3 berlangsung rapi. Jam satu tepat, aku bahkan sudah sampai di Ummi.

Check and recheck naskah dilakukan. Sambil Bu Wiwik terus minta tolong aku menghandle persiapan acara diskusi terbatas soal RUU Pornografi yang akan berlangsung Sabtu besok.

Sambil sesekali menimpali celoteh teman-teman, sidak kiri kanan berkaitan soal layout dan rencana raker, daftar undangan selesai juga. Tinggal konfirm, bikin release dan undangan bagi wartawan.

Ketika hari merambat malam, kepala rasanya sudah berat sekali. Mata pedih dan tangan berbonggol-bonggol saking seringnya mengetuk tuts keyboard. Tapi Alhamdulillah, semua target pekerjaan hari ini selesai, dan aku bisa pulang dengan senyuman.

Wahai duniaaaaa...aku pulaaaaaang........
Selesai detlen, Kamis, 23 Maret 2006

Friday, November 26, 2004

Anak-anak tersayang

Sejak pagi, anak-anak sudah bertingkah.
Malas bangun, malas mandi, malas sekolah.
"Aku masih ngantuk mamaaaaaa," mereka berteriak seolah tidur sejak jam 9 malam sudah terlalu larut bagi mereka.

Lalu, gelengan demi gelengan
"Nggak mau makan!"
"Nggak mau minum susu!"
"Nggak mau duit gopeeeeekkk," *bahkan si kecil pun inginnya jajan seribu*

Semua teori ditumpahkan
"Ayo sayaaang, anak soleeeeh..."
"Anak salihat, makan supaya kuat,"

"Banyak orang tak bisa makan, tak bisa sekolah. Alhamdulillah, kakak dan kiki masih bisa sekolah dan makan enak-enak....yuuuukkk,"
"Kalau kita mandi, badan segar, penuh semangat..."

Tapi
Mereka berkeras
dan teori-teori itu menguap
rasanya saldo kesabaran, terkuras hanya untuk dua jam pertama
Lalu defisit

"Berangkat sekolah sekarang juga!"
"Habiskan sarapan, jangan lupa minum susu!"
Rasa kesal memuncak hingga di ujung kepala.

Lalu mereka beranjak. Dengan tas-tas ransel di punggung mereka.
Sepeti kura-kura kecil merayap menuju hamparan lautan
Aku melepas mereka dengan sepenuh doa dan harapan

Rumah kembali sunyi
Detlen sedang berlangsung. Hujan turun tak henti-henti. Tetapi sejak kemarin pompa air ngadat. Hanya menyisakan setetes demi setetes air yang telah habis pagi ini.

Cucian tak kunjung kering. Setrikaan menggunung menanti dibenahi. Gerah, sumuk, rasa ingin berendam, masih harus ditambah dering telepon tak putus-putus,
"Mbak, bahan iklan belon masuk satu,..."
" Mbak, kartu nama belum dibuat..." *padahal order sudah dilakukan sejak lama*
"Mbak, foto profil gagal, harus dikejar ulang..."

Duh, kenapa anak-anak lama sekali pulang?

Detik-detik akhir detlen, 25 Nov 2004







Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More