Heboh Ied 1433 H Agustus 2012

Mama, papa, kakak, abang dan zay, sesaat setelah sholat Idul Fitri dan beberapa saat sebelum boyongan ke Sumedang.

Say Cheezzzzz!

Idul Fitri memang waktu yang sangat menggembirakan. Bahkan si kecil Zay pun bisa mengendus aroma kegembiraan itu dan memberikan senyum terbaiknya. Say cheezzz...

Air Terjun "Curug Orok" Garut Jawa Barat

Papa dan Zay yang masih bayi 3 bulan alias masih pantas disebut orok berpose di depan lintasan air terjun orok. Dingin. Tapi alhamdulillah Zaydan ketawa-ketawa dan pulangnya tidak sakit.

Satu...Dua...Tiga....

Memanfaatkan masa rihlah bersama sahabat-sahabat, papa, mama, kakak, abang dan zay menikmati segarnya udara di air terjun curug orok, Garut. Alhamdulillah.

Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC

Bersama rekan-rekan wartawan saat melakukan kunjungan "foreign press tour" ke USA, sempat mampir ke Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC.

Showing posts with label family. Show all posts
Showing posts with label family. Show all posts

Thursday, January 08, 2015

LOOP - JANGAN ASAL INTERNETAN





iklan yang bagus nih. perlu diperhatikan anak muda dan dipahami orangtua untuk ingetin anak-anaknya

Tuesday, January 06, 2015

Robohnya langit-langit kami

Kenginan lelap pules di jam dhuha untuk melepas penat akibat lelah keluar kota dua hari di week-end kemarin terganggu ulah kucing yang berlari liar wal gahar uber-uberan di para-para mulai dr belakang rumah menuju teras
Saat mengejutkan itu dimulai ketika mindud si tetangga terdengar memanggil-manggil peliharaannya; tigeeeeer..... tigeeeeeeer....
Lalu terdengarlah bunyi gahar itu. Derap kaki kucing yang lari dengan sangat tergesa dan diikuti kucing lain yg mungkin mengejar.
Grududk gruduk gruduk gruduk gruduk ......braaaaaak! Dan langit2 kamar pun jebol. Menumpahruahkan segala kotoran, debu, serpihan kayu dan gak ketinggalan pecahan genteng
Innalillahi wa ina ilaihi rojiuuuuuuun
Terkejut deh saya sambil teriak; Allahuakbar, innalilahi! Si papa juga kaget dan terbangun lalu loncat melihat situasi.
Apakah itu si tiger dikejar kucing lain ya nggal jelas juga, tapi yang jelas bunyinya sih meong kucing san akibat akhirnya yg jadi fokus perhatian kami yaitu jebolnya langit2 kamar
Satu yg masih disyukuri, Zay *dan kita semua* gak ketiban sesuatu. Meskipun nyaris banget
Maka buyarlah sudah kantuk. Dan boro2 melepas lelah, yang ada malah kerja bakti. Hhhhhh......

Thursday, January 01, 2015

Sambut tahun baru 2015 idan main bunga api sama papa

Sambut tahun baru 2015 idan main bunga api sama papa

Thursday, October 31, 2013

Mak "Pemalas" Sajikan Sukam

Akhir-akhir ini di rumah lagi "diteror" oleh pedagang sukam alias susu kambing. Ya, si @mindud sekarang jualan susu kambing yang menurut kabar lebih bagus dari susu sapi karena punya beberapa kelebihan, seperti misalnya, lebih mudah dicerna oleh tubuh manusia dan memiliki kandungan vitamin dan mineral lebih lengkap. gitu deh. 

Nah, karena kegigihan si @mindud dan juga karena saya brosing-brosing eh ternyata oh ternyata sukam ini memang kaya manfaat, saya pun tertarik mencoba beli. Mula-mula saya beli yang rasa kopi ginseng, secara saya ini pecinta kopi. Ngebayanginnya aja hmmmm bakalan asyik nih sukam rasa kopi ginseng. pastinya mantaaaafff...

tetapi sehari dua hari sampe seminggu bahkan sepuluh hari tu sukam rasa kopi ginseng yang sebenarnya menggiurkan itu masih tersimpan rapi dan rapat dalam kotaknya alias beloman dibuka. Alasannya: malas

Ish ish ish, tapi memang sih, sejak rutin beli dan minum susu UHT *tepatnya sejak dua tahun setengah lalu, seiring usia minum UHT si Zaydan* kami di rumah sudah terlena dengan keasyikan minum susu tinggal tusuk dan sedot. Enak pula.

Maka, si emak yang malas ini segera tanya pada @mindud apakah dia punya sukam siap minum. ternyata ada meski langka. itu adalah raw sukam yang merupakan sukam segar botolan. Musti ditaruh di friser dan kalau mau minum musti dipanaskan dengan merendam sang botol dalam air panas.

Weh weh weh, jadi mirip si Zaydan dulu kalau mau minum ASI saat emaknya ngantor dong. Minum ASI botolan yang dah disimpan di friser. Sementara sekarang maknya minum ASIK alias air susu ibu kambing. huehehehe

Diminumlah itu si raw sukam, tetapi meskipun saya tidak sedemikian menolak rasanya *karena saya suka minum susu sapi segar* tetap rasanya kurang okeh untuk dijadikan minuman ruitin harian.

So saya kembali tertarik pada si sukam bubuk lagi. Dan akhirnya mencicipi itu si sukam bubuk rasa kopi ginseng. Ternyata enak dan sayapun sudah siap dengan konsekuensinya karena diberi tahu jaoh-jaoh ari sama si @mindud bahwa sukam itu tidak sepekat susu sapi. jadi jangan kaget kalau anda minum sukam terkesan cair.

Tetapi setelah bikin pertama kali, tu sukam nggak diminum lagi. Soalnya, gitu deh, males bikinnya. Ish ish ish..... kok bisa males, sebab, pengalaman di rumah, supaya rasa minum sukamnya lebih mantap dan "nendang" tu sukam sebaiknya diblender dengan penambahan sedikit es batu macam bikin minuman pop ice atau diblender dan disimpan di kulkas

Jadilah saya macet lagi minum sukam, hingga beberapa hari kemudian @mindud nawar2in lagi sukam dengan rasa berbeda.

"Ayo, sekarang cobain lagi rasa yang lain. Strawberry, coklat, plain..." bujuknya

"Yang kopi aja masih ada."

"Kenapa gak diabisin? Ish, itu kan cuma buat 10 gelas, mestinya abis dua tiga hari."

"Males bikinnya. Kemarin nyobain pake diblender enak, tapi sekarang ngeblender susu sebelum minum rasanya males."

"Kenapa gak bikin sekalian aja sebungkus, dijadiin seliter atau dua liter trus simpen di kulkas. Kalau mau minum tinggal glek. Repot bikinnya kan jadi sekali doang, dua hari sekali."

Eh, eh, bener juga ya ide si @mindud. Layak dicoba tuh. Secara anak-anak dan si abah juga maunya minum susu tinggal sruput, kalau disuruh nunggu atau bikin blenderan pasti ogah, nah kalau dah sedia di kulkas tentu pada senang.

Maka, setelah obrolan itu, saya pun mempraktekkan pembuatan sukam versi literan. Hari pertama bikin sukam sesuai petunjuk di kotaknya, karena 200 cc air ditambah 20 gram susu, maka sekotak susu alias 200gr susu saya campur 2liter air dengan perbandingan 1 liter panas, 1 liter dingin. Semua diblender. 

Berhubung blender saya cuma berkapasitas kira2 1 liter saja maka saya membuat blenderan susu ini dua kali. Seliter pertama saya blender tanpa tambahan gula *buat saya dan zaydan* dan blenderan kedua saya beri tambahan gula *buat bapake dan anak2 yang dah pada gede-gede*

Setelah diblend, si susu ini segera disimpan dalam botol dan dimasukkan kulkas. Yang diberi tambahan gula dimasukkan botol ukuran seliter. yang non gula dimasukkan dalam dua botol 500 ml, dengan niatan, kalau mau ke kantor tinggal gotong, masukin tas. Hmmm....

Beberapa waktu kemudian, setelah dingin, susu ini siap untuk diminum. Tinggal tuang ke gelas dan srupuuuut. Nyam..... sedaaaaap

Begitulah, sesi kemalasan berhasil diatasi dengan cara bikin susu sekardus sekali bikin. tetapi masalah saya ternyata belum berakhir.

Dengan tersedianya susu di dalam kulkas dalam kondisi siap minum, ternyata ada peminum susu skala aktif yang beroperasi. Sehingga, susu yang semestinya habis diminum dua hari untuk berlima ini nyatanya seringkali hilang dalam semalam, dan hanya meliputi 3 tersangka utama. Saya, suami dan Zaydan. Akibatnya, susu cepat habis dan musti beli lagi. 

Kalau si tetangga yang jualan ni susu tahu, dia pasti bersorak gembira, karena dagangannya bisa laris. tapi sayang kecepatan habis si susu tidak berbanding lurus dengan kecepatan pengisian kantong. Sehingga saya harus mensiasati agar tidak terjadi jebolnya APBRT sebagaimana jebolnya APBN negara kita gegara subsidi BBM *ehm*

Maka, sukam harus diselingi dengan supi *susu sapi* atau saya harus berubah menjadi ibu rajin. yang membuat susu segelas-segelas saja agar konsumsi minuman segar asyik ini menjadi lebih terkendali hitungannya.

Deuh, kayak ngebahas apa aja ya... cuma urusan minum susu doang. Hahahahaha












Wednesday, October 30, 2013

Improvisasi Ala Zaydan

Dua tahun. Apa sih yang berubah dari diri kita dalam dua tahun. Sepertinya tidak terlalu banyak. Sedikit kelebihan tentu ada. Seperti misalnya kelebihan berat badan *oops* tapi soal lain-lain agaknya tidak banyak. Ada tetapi cenderung nampak biasa, tidak tergolong "wow" atau "menakjubkan"  

Lain ceritanya dengan Zaydan. Dalam waktu dua tahun banyak hal membuat saya terpana, ternganga dan terpesona. Dari orok imut takbisa apa-apa lalu bisa apa-apa. Dari hanya minum ASI lalu doyan segala rupa *itu artinya termasuk rendang, ikan asam padeh dan ais krim*. Dari seolah tak berdaya eh rasanya tahu-tahu lancar lari, lancar bicara. 

Pagi kemarin dia kembali membuat kejutan.

Waktu itu sekitar jam 8. Abang Kiki *yang tak sekolah* masih tidur. Saya, Sipapa dan Zaydan ada di ruang depan. Mau sarapan bubur ayam hasil mbeli di depan sana.

"Zay, coba bangunin Abang Kiki, bilang dipanggil Mama,"

Saya menyuruh Zaydan sebenarnya sambil ngetes aja, dia bisa gak si disuruh bangunin Abangnya. Kira-kira macam apa. Belum kebayang juga kalau dia bisa menyampaikan pesan soal "dipanggil mama". Saya masih menduga dengan kalimat perintah majemuk *taelah* yaitu 1) bangunin abang lalu 2) menyampaikan ke abang bahwa 3) mama memanggil abang setidaknya dia sampai pada masuk kamar abang dan menggusrahnya.

Ternyata

"Abaaaaaam... banuuuuuuung. Dipanggimamaaaa abaaaaam. Cepaaaaat."

Haaa? Subhanallah. Ternyata dia bisa lho. ya ampuuun. Jelas dan lugas. Abang, bangun! Dipanggil mama. Dan ada tambahan pula, cepaaaaat. huaaaa. kereeeeen. kereeeeeen. Saya dan suami ketawa senang. tapi lalu segera,

"Abaaaaaaam, banuuuung.damagiiip, soaaaaaat."

Eeeeeit, woooooo, malah improvisasi segala. Nyuruh bangun. Udah magrib. Sholaaaat.

Huehehehe. Saya dan suami jadi terkekeh-kekeh.

Itulah anak balita. yang jiwanya merekam segala. rupanya itu yang  biasa didengarnya. Gusrahan membangunkan abangnya untuk sholat. kadang abang Kiki memang perlu digusrah, untuk sholat subuh. Juga digusrah ke masjid untuk sholat magrib.

Dan itulah improvisasinya. Abaaaam, banuuung. Dah magriiib. Sholaaat..

Good Zaydan. Semoga menjadi anak sholeh yang muttaqin. Aamiiin

Monday, February 04, 2013

Cara Gampang Cari Uang

Tiap tahun, persisnya menjelang Lebaran, para petinggi di negeri bernama de-ka-i sibuk mewanti-wanti rakyatnya.

Katanya Sih Ini Bagian Program Diet Kelapa
“Duhai rakyatku, pergilah kalian dengan tenang ke kampung halaman sana. Nikmatilah kecerian setahun sekali itu bersama sama keluarga dan handai tolan. Pupuslah rindu redam kalian *loh kok jadi puisi?* Tapi tolong, tolong, sekali lagi tolooooong, jangan bawa pulang ke de-ka-i  calon warga baru, meski dia adalah sanak saudara, pun dia handai tolan, atau siapapun yang akan mejejali negeri yang sudah penuh sesak ini.”

Begitu kira-kira.
Apakah si rakyat mendengar?
Tidak. Pastilah tidak. Sebab, tetap saja pendatang bermunculan di negeri de-ka-i
Tidak. Pastilah tidak. Sebab, semua wanti-wanti itu kan sifatnya himbauan, bukan  titah wal hukum yang dikuatkan lewat sebentuk undang-undang *yang toh undang-undang pun sering diabaikan, duhhh*

Well, begitulah, si negeri de-ka-i makin gemuk saja, dengan lahan yang cuma segitu-gitunya.
Dan sayah lantas punya sebuah dongeng mengenai mengapa si de-ka-i menjadi semakin gemuk dari hari ke hari, karena menurut sayah salah satunya karena di de-ka-i ini cari duit itu ternyata gampang. Gampaaaang banget.

Ih, maca ciiiih? Cyuuuus? Miapah?
Miayam
Mibaso
Mitektek
Miso-soup
Mikrolet
Minimarket

Tuh… itu sajah sudah menunjukkan betapa banyaknya lahan pencarian bakat eh duit di Jakarta.
Nah, kemudian sayah kembali ke kampong sayah di salah satu pojok belantara Jakarta. Ini bukan fiksi, saya memang tinggal di sebuah tempat bernama aseli Kampung Pela dan rumah saya benar-benar berada di pojokan alias mentog.

Di ujung jalan, ada beberapa bapak suka duduk leyeh-leyeh, ngobrol ngalor ngidul, kadang sambil ngebul baik itu akibat kopi panas ataupun rokok lalu pulang mengantongi duit. Itulah para pengojek. Dalam sebuah wawancara singkat dengan seorang  isteri pengojek, dia mengaku minimal sang suami membawa uang 50 ribu rupiah dalam 12 jam waktu operasi, dari jam 6 pagi sampai jam 6 petang. Dipotong bensin hari itu plus rokok *geram sayah sebenarnya, hare geneh masih merokok aje, hih* maka dia membawa bersih sekitar 30 ribu rupiah per hari.

Sementara sang isteri lebih perkasa dari suaminya ternyata, darimana saya tahu? Karena dia punya jadwal ketat dalam berkarir dengan rincian; pagi cuci gosok di rumah A, siang di rumah B dan malamnya dia sediakan waktu untuk merangkai mote-mote di pinggiran kerudung pesanan satu konveksi.

Di RT yang berbeda ada dua penjualan makanan keliling. Tidak pakai sepeda, tidak juga gerobak. Andalannya kekuatan bahu, tangan dan sesekali kepala. Dagangan yang dijajakan pun spesifik. Yang satu gorengan. Yang satu aneka buburan, eh bubur dan kolak tepatnya.

Ibu gorengan hanya menjual gorengan, tempe, tahu, bakwan, ubi, pisang dan sesekali comro atau misro. Dagangannya hanya digendong di pinggang, sesekali diletakkan di kepala.

Mbak bubur *karena orangnya lebih muda* hanya menjual variasi bubur dan kolak, yaitu bubur sumsum, kacang hijau, ketan hitam, biji salak dan kolak *kadang ubi plus pisang, kadang ubi plus singkong*. Bakul dagangannya yang berisi panci di-ais pakai kain jarit *yang untuk menggendong bayi itu loh*sementara tangannya memegang keranjang berisi bubur yang sudah diikat-ikat dalam plastik.

Jam kerja mereka pendek saja. Ibu gorengan hanya beredar usai magrib sampai jam 21. Mbak bubur keluar dari rumah jam 3an dan pulang magrib. Keduanya bekerja hanya sekitar 3 jam.  Bu gorengan mengaku menjajakan gorengan sekitar 100 potong sehari dan Mbak bubur menghabiskan 4 panci sedang  bubur dan kolak.

Sedikit di belokan RT sayah ada rumah tetangga yang punya usaha sederhana. Jual lauk matang. Hanya ditaruh di meja dan etalase kecil di teras rumah, tapi dagangannya ini ternyata laris manis. Sebab, yang dijual beraneka macam masakan rumahan dan rasa masakannya enak sesuai judul masakannya. Kalau sayur lodeh ya rasa lodeh. Sop rasa sop. Balado ikan rasa balado. Dan semur ya rasa semur. Ih, emangnya ada masakan yang beda rasa dengan judulnya? Sayangnya ada.  Dan sayah pernah ketemu warung makan yang makanannya beda-beda tapi rasanya semua searah. Kurang sip gitulah.

Di ujung gang sayah tinggal juga ada tukang teh poci, yang digawangi sepasang suami isteri muda yang baru punya bayi usia 3 bulanan. Usaha mereka? Ya itu tadi dagang teh poci. Mereka berdagang dari semenjak baru menikah dan menjaga gerobak teh pocinya bergantian. Dalam sehari, kata si isteri mereka menghabiskan 3 kali ganti drum teh *apa itu nama aslinya? Pokoknya tempat simpan itu si teh poci yang sudah dilarutkan dengan air panas* dan satu the bisa menjadi kira2 seratus gelas teh poci.

Di ujung jalan sedikit lebih jauh, kira2 lima menit jalan kaki, sayah punya tempat langganan beli air kelapa. Yang jual anak muda, yang sayah ikuti perkembangan jualannya *deuh, gaya* dari mulai buka usaha kelapa muda sampai sudah menjadi dua tahun usaha. Jualanannya konsisten, kelapa muda *kadang sedikit tua juga sih*.  Dari dia sendirian sampai sekarang sayah lihat dia punya dua asisten yang sayangnya masih sering salah menentukan mana kelapa yang muda dan remaja.

Begitulah, itu gambaran singkatnya. Sebab, kalau keliling di er-we sayah saja, gak kehitung beraneka usaha yang digelar para warga. Yang jualan susu kedele, gado-gado, ketupat sayur, ikan hias,  tambal ban, dll. Itu belum termasuk skala “serius” yang membutuhkan sewa tempat dan modal lebih besar seperti pangkas rambut, salon, warnet, cuci motor, mie ayam, mie bakso, fotokopi, dan toko pakaian.

Di depan sekolah-sekolah  usaha rakyat de-ka-i malah lebih unik, sebab sayah lihat sendiri betapa dagangan di depan beberapa SD meliputi: mainan produk si abang misalnya kincir angin dari bekas gelas mineral, gambaran yaitu sebentuk gambar seperti cinderella, thomas, upin-ipin yang tanpa warna dan bahkan kadang gambarnya pun asal saja yang dijual supaya anak2 bisa mewarnainya, lalu ada juga penjual anak ayam wal  anak bebek wal burung *kadang hewan2 ini sudah diwarnai jadi merah, hijau, kuning mengenaskan*, lalu penjual kadal *dibawanya pakai botol air galon*, ada pula jasa sewa gamewatch,hingga penjual mimpi karena anak-anak membayar sekian rupiah membeli permen yang disebut “berhadiah”. Kadang ada hadiahnya, dan tentu lebih sering tidak berhadiah.

Semua yang sayah sebut itu baru yang ada di sekitaran rumah sayah loh ya. Belum kalau bicara di lingkup yang lebih jauh. Di terminal misalnya. Kita bisa ketemu jasa semir sepatu, jasa tukar uang receh, penjual tisu dan permen *hanya itu, lain tidak* sampai tukang pijat refleksi.

Aneka usaha tadi, sebutlah jual kadal dan jasa cuci gosok rasanya agak sulit dibayangkan terjadi di Haur Lawang kampung mertua sayah atau di Kelok Tigo dekat kampung ayah sayah. Selain kadal itu bisa dicari di belakang rumah dan gak perlu beli, orang-orang cenderung mencuci gosok sendiri pakaian rumah tangganya.

Jadi sepertinya menurut sayah ujung-ujungnya semua ini salah si bos pemerentah de-ka-i nya sendiri *paling enak loh nyalahin pemerentah, masak  iya nyalahin diri sendiri, hihi. Minta maap sebelomnya ya pemerentah. Ampun, namanya juga dongeng.* Sebab segala pusat kekuasaan, pusat ekonomi, pusat budaya, pusat kemegahan, pusat kenyamanan dan pusat kekomplitan bersemayam penuh di lingkaran si de-ka-I sendiri.

Selama negeri-negeri lain di luar si negeri de-ka-i masih belum juga dibuat banyak fasilitasnya, nyaman, indah dan bikin betah warganya, mereka masih akan terus mencari-cari negeri lain yang bisa bikin betah.
Dan si negeri de-ka-i apa boleh buat masih menjadi magnet bagi banyak orang yang ingin mengadu nasib alias ingin cari duit.  Harapannya awalnya mungkin ingin bisa jadi pegawai “kantoran” atau menjadi pengusaha sukses yang beromset miliaran. Tetapi kalaupun belum terlaksana, orang-orang ini akan terus bertahan semampu mereka dengan ya itu tadi, bisa menjadi pemijit kaki atau menjual anak ayam warna-warni.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More