Heboh Ied 1433 H Agustus 2012

Mama, papa, kakak, abang dan zay, sesaat setelah sholat Idul Fitri dan beberapa saat sebelum boyongan ke Sumedang.

Say Cheezzzzz!

Idul Fitri memang waktu yang sangat menggembirakan. Bahkan si kecil Zay pun bisa mengendus aroma kegembiraan itu dan memberikan senyum terbaiknya. Say cheezzz...

Air Terjun "Curug Orok" Garut Jawa Barat

Papa dan Zay yang masih bayi 3 bulan alias masih pantas disebut orok berpose di depan lintasan air terjun orok. Dingin. Tapi alhamdulillah Zaydan ketawa-ketawa dan pulangnya tidak sakit.

Satu...Dua...Tiga....

Memanfaatkan masa rihlah bersama sahabat-sahabat, papa, mama, kakak, abang dan zay menikmati segarnya udara di air terjun curug orok, Garut. Alhamdulillah.

Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC

Bersama rekan-rekan wartawan saat melakukan kunjungan "foreign press tour" ke USA, sempat mampir ke Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC.

Showing posts with label keluarga besar. Show all posts
Showing posts with label keluarga besar. Show all posts

Thursday, October 24, 2013

Sweet Seventeen Suit Suiiit Part II

Well kemarin ini kan sempat menuliskan kalau di acara yang cukup khidmat itu ada seorang anak meraung-raung minta sedotan bengkok. Eh, ternyata adik saya, si @mindud sampai nyolek di jagad maya, menanyakan siapa gerangan si pembuat keonaran itu. Rupanya dia lupa, atau malah gak tau? 


Wah ketahuan deh, waktu acara akad nikah kakak tersayangnya ini itu anak lagi ngelencer ke meja hidangan kayaknya tuh :D

Jadi, waktu saya menikah di tahun 1996, 17 tahun lalu itu, saya sudah punya keponakan segambreng alias 8 butir. Keponakan tertua , @tatahulpih, usianya baru 9 tahun. Aha, kebayang dong betapa printilnya usia ponakan-ponakan saya yang lainnyah

Bukan cuma banyak *sekarang, per 2013 ini keponakan saya sudah menjadi 18 biji!* mereka juga berbeda-beda gaya. Ada yang banyak omong, ada yang *seolah-olah* pendiam, ada yang tukang makan, ada yang susah makan, ada yang pehobi susu, ada yang anti susu, ada bicaranya jelas lugas, ada yang ribed blipet gak jelas, ada yang kalau minta sesuatu merepet, ada yang gugulingan dan sebagenya...

Nah, salah seorang diantaranya, yaitu anak dari kakak tertua, termasuk yang doyan makan dan bicara rada blipet dan kalau minta sesuatu gugulingan.

Dia ini usianya waktu itu kalau gasalah 5tahun-an. Dan selepas minum susu botol, emaknya membiasakan dia minum pakai sedotan. Dia suka. Supaya lebih rapi emaknya kerap memberikan sedotan bengkok *itulah sedotan yang ada ulirnya* dia pun suka. Bahkan terbiasa. Dan rupanya, si emak ini menyediakan berlosin-losin sedotan bengkok di rumah  sehingga kapanpun anaknya mau minum, entah susu wal teh manis, si emak tinggal sambar itu sedotan bengkok.

Tapi.... ya ampuuuuun... ndilalah di acara super duper penting semacam pernikahan adik tercintanya, yaitu saya, si kakak tertua ini kok ya malah lupa bawa itu sajen keramat alias si sedotan bengkok. Walhasil, eng ing eng....

Saat akad nikah mulai berlangsung khidmat, si keponakan saya mulai merengek minta minum *sepertinya susu* ke ibunya. pleus sedotan bengkoknya juga tentu.

Ibunya cuma menyabar-nyabarkan. Ssst... stttt... bentar yaaa... gitu kira2 kakak saya membujuknya. Saya cuma lihat dari kejauhan kira2 3 meter deh jaraknya.

Acara terus berlangsung.

Si ponakan terus merengeng. Mi... mi... sedotan bengkok... sedotan bengkok....

Sssst.... ssst bentar yaaa

Acara masih berlangsung. Saya sendiri bisa melihat adegan "sedotan bengkok" ini karena waktu itu pernikahan kami pakai sistem pisah tamu undangan. Laki di depan, perempuan di dalam. Saya sebage penganten perempuan juga ikut "ngumpet" di dalam, di wilayah para tamu pleus keluarga perempuan.

Jadi, sementara *waktu itu calon* suami sedang khusyuk dan khidmat melantunkan ijab kabul, saya masih bisa menyaksikan adegan ponakan minta sedotan bengkok sambil numpak punggung emaknya.

MAU SEDOTAN BENGKOOOOOOK... sedotan bengkok... sedotan bengkoooooook

ya ampooooon, akhirnya karena kesal si emak gak juga memberikan yang dia mau... tu ponakan akhirnya berkeras suara dan mulai merengek, menangis, meraung

Sontak beberapa kerabat terkejut,  ibu saya melotot, saya nyengir, dan kakak tertua saya jadi misuh-misuh. Seingat saya, dia langsung sigap menggotong anaknya menjauh keluar ruangan. Entah kemana. Yang jelas akhirnya si anak yang merauang tidak lagi jadi bahan kekisruhan, karena ternyata akad pun usai. Saya pun resmi jadi isteri orang. Dengan senyum lebar plus cengar cengir. Bahagia? iya. Tapi juga karena lucu. Gimana nggak, itu momen tak terlupakan deh dalam hidup saya. Lagi khusyuk khidmat kok ya digusrah anak yang jejeritan minta sedotan bengkok.

Hahaha. 

Thursday, May 30, 2013

Perempuan - Emosi dan Uang

Malam sudah larut, tapi Buku Money, A Memoar itu masih memanggil-manggil untuk dibaca. Sebenarnya buku ini sudah lamaaaaaa banget dibeli dan sependek ingatan saya sudah pernah dibaca. tetapi sudah lupa lagi, kecuali sebagian kecilnya saja. mungkin waktu itu sedang speed reading alias baca cepet-cepet atau kurang konsentrasi atau memang, yah...lupa saja

Nah karena lagi sibuk bikin hitung-hitungan keuangan beberapa hari sebelumnya, ketika kemudian sedang beberes rak buku melihat buku ini, langsung saja tertarik untuk membacanya lagi. Kemudian, sebagaimana biasanya saya kalau sudah muncul 'minat baca' susah untuk menghentikan buku yang sudah dipegang dan mulai dijelajahi dari halaman awal.

Oke, back to story, sejak pagi sudah asyik membaca buku yang dikarang sama Mbak Liz Perle ini. senyum-senyum juga baca awalan kisahnya yang tertera di halaman-halaman awal, dan kemudian jadi tambah semangat membaca. sebab, buku yang sebenarnya serius dan 'berat' karena memaparkan soal 'perempuan, emosi dan uang' dalam lingkaran yang penuh onak dan duri *doh, bahasanya* bisa tampil begitu segar karena dibawakan dalam bahasa tutur ringan pleus contoh-contoh kisah nyata yang menarik. wajar bila buku ini juga disebut sebagai "memoar"
Karena seharian harus berbagi waktu dengan mengurusi bobocah, tutugas kantor dan beragam urusan yang penting dan gakpenting tapi harus lainnya maka baru jam 22.30 malam ada kesempatan bisa leyeh-leyeh di kasur tanpa gangguan. mata sih sudah mengantuk. tetapi karena tanggung sudah separuh jalan, si buku yang diterjemahkan sebagai 'Perempuan, Emosi dan Uang' itu dibuka lagi dan kembali dibaca. Wah semakin menarik. Dalam soal uang atau keuangan perempuan rupanya memang sangat emosional. Mungkin itu juga sebabnya, saya kalau sedang tak punya uang merasa menjadi lebih mellow dan hampa *hyaaaa.... hahaha*

Ternyata di malam yang sudah larut itu pun namanya 'gangguan' masih saja datang. yaitu ketika tiba-tiba hp berbunyi dan sebentuk pesan masuk. pesan whatsapp. dari si tetangga, alias @umindud alias adek saya yang punya penyakit sama; suka tidur terlalu larut. ternyata si tetangga ini punya gosip menarik. sehingga satu dua pesan baris whatsapp tak cukup untuk menghentikan kesibukan kami pencet-pencet keyboard hp.

Akibatnya, si buku tetap dibaca sambil disambi chatting yang semakin lama semakin seru dan sesekali juga haru. Dan akhirnya saya menamatkan bacaan si buku ini pada sekitar jam setengah 2 pagi. Dan bersamaan dengan itu, juga berhasil menamatkan chatting nan seru dan sesekali haru bersama si tetangga.
Luar biasa. dua kesibukan yang dilakukan secara serius *beneran loh, chatting saya dengan @umindud ini alangkah seriusnya membahas berbagai persoalan secara tajam, detil dan penuh pemikiran meski mungkin akan dianggap gak penting oleh orang lain, hihihi* bisa berlangsung dalam satu waktu.
Dan kali ini saya tetap bisa menyarikan isi si buku. misalnya soal;

#jangan biarkan uangmu diam *sehingga saya mulai menyodok uang dua rebuan dengan sapu lidi dan si @umindud bertekad akan memancing recehnya menggunakan bulu ayam yang diikat benang*

#tak usah beli oven double yang hanya akan dipakai satu *bahkan saya tak beli karena si tetangga punya*

#jika kau ingin turun berat badan, berolahragalah lebih banyak dan makanlah lebih sedikit *jangan menduga ini buku soal diet*

#ji kau kau menginginkan keterjaminan finansial, menabunglah lebih banyak dan belanjalah lebih sedikit *nah ini lanjutan poin sebelumnya, tentu saja*

#sisihkan uang untuk masa pensiun, meski itu berarti mengabaikan wastafel dekil dan retak di kamar mandi *@umindud kegirangan, sebab wastafelnya dekil sehingga dia membuat analisa ilmiah bahwa dia sudah dekat pada situasi "keterjaminan sosial" BRAVO!*

and last but not least

#kebahagiaan adalah menginginkan apa yang kau miliki, bukan memiliki apa yang kau inginkan

Demikianlah, karena waktu itu sudah amat larut. saya dan @umindud pun meyakini kami menginginkan tidur dan kami lakukan di kasur kami yang empuk dan nyaman dan kami, alhamdulillah, merasa bahagia.

Sekian

Tuesday, January 29, 2013

Posisi Laki-laki Lebih Tinggi

Maaf yak, bukan mau diskriminasi, tapi...
posisi anak laki-lakiku memang lebih tinggi dari anak perempuanmu
Itu fakta lho, bukan fiksi *colek @ummindud


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More