Wednesday, December 21, 2011

Anak anak Kita Dalam Bahaya; Ayo Tolong Mereka

Ini berawal dari sebuah keprihatinan. Sepulang sekolah pada hari Kamis (tapi entah kapan, saya ingat hanya Kamisnya saja) anak saya yang bersekolah siang tiba di rumah di waktu Isya.  Sambil melepas lelah, anak saya melihat tayangan televisi. Tak lama dia bercerita bahwa yang dilihatnya tadi acara bernama On The Spot. Lupa-lupa ingat sepertinya saya pernah sekali menonton acara ini yang menayangkan 7 Pulau Buatan Ter---- entah terbesar atau termewah atau terbaik atau apalah, lupa juga.

Sayangnya episode yang ditonton anak saya tidak seindah itu, mengerikan malah, karena menyajikan episode 7 Remaja Pembunuh Tersadis. Ya, anda tidak salah baca, dan karena itu saya yakin anda sepakat ketika saya memilih kata ‘mengerikan’.

Anak saya mau menceritakannya satu demi satu, tetapi baru satu bagian –saya tidak tega menceritakannya kembali- saya sudah bilang, “STOP, jangan lanjutkan. Mama ngeri mendengarnya, ayo kita sama-sama mengucapkan naudzubillahi min dzalik” Saya dan kedua anak remaja saja merapalkan doa itu. Dan saya menambahkan doa yang secara khusus saya tujukan pada anak-anak saya agar terhindar dari fitnah, maksiat dan marabahaya.

Jantung saya langsung berdebar-debar keras, karena kata remaja saja dikaitkan dengan kata pembunuh sepertinya sudah keterlaluan tidak matchingnya apalagi ditambah dengan kata sadis, makin membuat perut ini terasa melilit. Mungkin terutama karena saya punya anak remaja, sehingga setiap hal yang berkait dengan keanehan-keanehan perilaku remaja membuat saya semakin mudah mengkerut jiwa.

Saya tak suka diceritakan soal tayangan itu. Menakutkan dan tidak memberi kelegaan di tengah hidup yan terasa semakin sulit –dengan masalah korupsi, lingkungan rusak, sedot pulsa, macet parah, ancaman banjir, aaaarrrrrgghhhh…..

Dua jam kemudian di hari Kamis yang sama, suami yang sedang membuka halaman detik dotcom terkejut dengan satu berita dan menuturkan pada saya. Berita itu membuat suami saya prihatin dan saya kembali merasa mengkerut jiwa. Diberitakan seorang remaja lelaki usia 16 tahun, pelajar SMK, menebas dengan clurit  seorang remaja putri hingga akhirnya remaja putri itu tewas dalam perjalanan ke rumah sakit (kalau mau cek beritanya, ubek saja sendiri detik dotcomnya ya)

Ketika ditangkap, sang remaja penebas itu mengaku  salah sasaran karena sebenarnya dia bermaksud menebas remaja lelaki yang sedang memboncengkan si korban. Dia menyebut bahwa sang remaja lelaki yang dia incar adalah musuh bebuyutan sekolahnya. 

Maka malam itu saya lewatkan dengan perasaan campur aduk yang berkecamuk di dalam dada dan kepala. Saya merasa seperti mau menangis, saya mau marah, saya ingin berteriak dan sekaligus saya ingin memeluk anak-anak saya erat-erat. Ya Allah, ada apa dengan anak-anak kami, remaja-remaja kami di Indonesia… mereka yang pastilah dibuai sepenuh cinta di kala bayinya dan diharap-harap menjadi penerus terbaik para orangtuanya kok nyatanya tumbuh menjadi “monster-monster” yang menakutkan…

Berkaca pada kasus penebasan tadi, entah si pelaku salah sasaran atau tepat sasaran, bukan itu persoalannya. Tapi bahwa sang anak sekolah bawa-bawa clurit – ya, dia menebas dengan clurit- yang sudah disiapkan. Bahwa dia sudah mengincar sesosok remaja lain –manusia dengan ruh, jiwa dan raga- milik Allah. Bahwa dia mengatakan si incaran adalah berasal dari sekolah musuhnya. Bahwa tidak peduli siapa dan ada urusan apa, kalau itu anak sekolah X maka itu musuh gue karena sekolah X musuh sekolah gue. Sekolah punya musuh?
Naudzubillah, tsumma naudzubillah….

Saya jadi flashback, dan terpaksa memutar ingatan yang tadinya ingin coba dilupakan –setidaknya tidak sering-sering diingat. Tahun 2010 lalu keponakan saya masuk SMA favorit. Yang sedihnya juga dikenal sering terlibat tawuran. Tapi kakak saya berprasangka baik. Bahwa itu masa lalu. Dan menambah prasangka baik bahwa “setiap tahun toh anak didik berganti, masa iya musuhan lagi, sekarang sudah lebih baik dong, kan anak-anaknya sudah ganti” 

Dan kemudian dia menambah lagi prasangka baik bahwa insyaAllah anaknya tidak akan ikut tawuran karena sudah dibekali segala upaya seperti penjelasan, pengertian, pemahaman, nasihat, doa-doa dan bekal sekolah dasar dan menengah yang baik.

Maka keponakan yang menghabiskan masa SD di SD Islam Terpadu, masa SMP di Pesantren Terpadu, dan lulus dengan 8 juz hafalan quran ini memulai SMAnya di SMA Negeri favorit ini. Mulanya baik-baik saja sampai satu ketika dia menelepon bahwa dia ada di rumah sakit. 

Hah? Kecelakaan? Bukan. Dia mengantar temannya yang sakit. Sakit karena kepalanya ditimpuk batu.

Ya. Teman keponakan itu sedang berjongkok menanti bus untuk pulang sekolah ketika serombongan siswa –begitulah, banyak kejadian melibatkan “serombongan”, “sekumpulan”, apapun yang berujung keroyokan- datang dan kemudian salah seorang dari mereka menimpukkan batu yang lebih besar dari kepalan tangan, ke kepala si teman keponakan.
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Ya, teman ponakan ini tergeletak dan dan karena banyak orang datang segerombolan anak-anak penimpuk itu lari. Keponakan saya yang masih ada di sekitar situ datang menolong dan setelah mengontak beberapa teman membawa sang korban yang akhirnya ketahuan mengalami gegar otak dan sempat koma beberapa waktu lamanya- ke rumah sakit. Sedihnya, mereka sempat ditolak rumah sakit swasta terdekat karena mereka tidak bawa uang –ya saudara-saudara, mereka harus bayar uang 400 ribu sebelum si korban yang sudah pingsan begitu ditangani-

Beberapa hari kemudian, tepatnya 15 Juni tahun lalu, kali ini sang keponakan yang pulang dengan kepala, dada dan punggung luka-luka. Berdarah-darah. Di kepalanya bahkan ada luka menganga sepuluh senti panjangnya. 

Innalillahi wa inna ilaihi rojiuuuun. Ada apa? Ikut tawuran?
Tidak, sampai detik ini alhamdulillah dia tidak pernah ikut tawuran. –seperti tawuran itu lomba balap karung atau panjat pinang saja!-

Tapi yang ada, ketika dia menuju terminal bus –dan dia memang pulang sendirian- serombongan siswa yang tidak jelas siapa -kenal saja tidak, apalagi sempat punya masalah- mendatanginya dan mengeroyoknya begitu saja. Begitu saja. Keponakan saya hanya bisa menunduk terjongkok, menerima hantaman bertubi-tubi menderanya. Sampai orang-orang termasuk pak polisi datang menolong. Dimana kejadian itu? Kejadian itu berlangsung di siang hari, dan persis di depan terminal yang ramai dan bahkan tak jauh dari pos polisi-

Mereka yang menolong ya hanya menolong sang keponakan. Alhamdulillah ‘ala kulli haal, meski si penyerang yang kabur berpencaran entah kemana tak ada satupun yang tertangkap. Pak polisi pun hanya berkata bahwa anak-anak yang menyerang itu dari sekolah X, yang suka berantem dengan sekolah keponakan saya. Pak polisi ini lantas meminta keponakan saya untuk segera pulang, jangan mampir-mampir dulu.

Keponakan saya tentu saja pulang. Mau kemana lagi dengan punggung berdarah-darah dan luka menganga di kepala? Rumah sakit bukan pilihannya saat sendiri itu. Dia hanya terpikir: rumah.  dia pakai jaket warna gelap, sehingga barulah ketika di rumah dan meneliti lekat-lekat kita bisa melihat jelas luka-luka di punggung, dada dan di kepalanya yang sudah mengering.

Jiwa kakak saya mengkerut. Saya juga, padahal hanya diceritakan. Sempat kami akan lapor polisi. Tapi lha, kan siang itu juga si anak bahkan sudah dari pos polisi. Yang menolong juga polisi. Kami lantas hanya jadi geram-geram bingung plus resah, kira-kira begitulah.

Ketika esoknya kakak saya mendatangi sekolah dan menceritakan kejadiannya, jawaban yang didapat  dari gurunya membuat  terpana, karena dikatakan: Wah…anak ibu dipukulin ya? Tapi nggak apa-apa kan? Si Fulan –dia menyebut nama salah satu teman lain si keponakan- malah dibacok kemarin Bu…jadi kita memang harus hati-hati Bu, pulang pergi sekolah diantar saja. Malah anak-anak yang baik-baik dan pendiam tuh yang memang suka kena… #terhibur? Jelas tidak!

Sahabat, saya menuliskan ini dengan hati pedih, marah juga nelangsa.
Yang kita bicarakan ini anak-anak kita. Yang pada pundak merekalah nanti dipikulkan beban masa depan. Ketika anak-anak ini menjadi “monster” di usia muda, betapa mengerikannya wajah masa depan bangsa kita. Atau ketika anak-anak lainnya berhadapan dengan para “monster”,  juga sama mengerikannya masa depan bangsa kita –dan bahkan masa depan anak-anak korban “monster” itu sendiri-

Tapi saya masih percaya kalau semua anak itu pada dasarnya baik. Orangtua –dan lingkunganlah- yang membuat mereka jadi nakal, brutal, rusak, atau jadi “monster”. Lingkungan bermain, lingkungan sekolah, lingkungan media, lingkungan birokrasi, lingkungan umum lainnya.

Mungkin mereka dibesarkan dengan ketidakpedulian orangtua, kemiskinan cinta, kemiskinan penghargaan, kemiskinan sentuhkan kasih sayang, galaknya guru, mudah marahnya orangtua, persaingan keras tanpa kesantunan para pedagang, caci maki di televisi, baku hantam di komik, sentimen berbalur umpatan kebencian antar organisasi –sepakbola misalnya- ketidakjujuran birokrasi dan banyak lagi dan sering lagi

Ah, apapun, saya hanya ingin menjeritkan kata hati saya sebagai ibu, bahwa anak-anak kita dalam bahaya dan harus ditolong. Baik yang sedang dizalimi maupun yang sedang menzalimi. Sebagaimana Rasulullah pun berkata, “tolonglah saudaramu, baik yang terzalimi maupun yang menzalimi.”

Yang terzalimi ditolong agar selamat dari kezaliman. Yang menzalimi harus ditolong agar berhenti dari kezalimannya.

Anak-anak kita tidak bisa dibiarkan terus hidup dalam ketakutan dan “kesakitan”. Kita perlu orang-orangtua peduli yang mau bahu membahu menyelamatkan mereka. 

Mungkin kita sudah berupaya menyelamatkan anak kita, tapi itu tidak cukup. Kita juga perlu peduli menyelamatkan anak-anak orang lain, yang akhirnya juga akan berimbas pada selamatnya anak-anak kita. 

Kita harus memperbaiki diri kita, lingkungan kita, tetapi juga harus saling menolong. Saling mengingatkan. Saling berhubungan. Mungkin membangun komunitas orangtua yang bisa saling memberi informasi, saling menguatkan, dan saling menjaga anak-anak kita. 

Di sekolah, komite sekolah baru diisi segelintir orangtua murid sebagai perwakilan. Mungkin sudah saatnya perlu ada pertemuan rutin orangtua pertiga bulan misalnya, untuk saling kenal, saling sapa, saling tukar informasi. 

Komunitas orangtua ini pun perlu pula beranjangsana, setidaknya bertukar informasi, salam dan sapa dengan komunitas orangtua lain dari lain tempat, lain sekolah, atau lain wilayah.
Kalau dengan fesbuk saja kita bisa punya sekian ribu kenalan berbeda-beda, para orangtua remaja pun semestinya bisa kan saling berpadu mendidik anak bersama-bersama.

Atau ada ide lainnya? Yang jelas, anak-anak ini sesungguhnya tengah berteriak minta tolong. Tinggal bagaimana caranya kita bisa menjawab permintaan mereka. Sebelum semakin banyak kisah ngeri lain akan kita dengar menjadi berita…

0 comments:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More