Heboh Ied 1433 H Agustus 2012

Mama, papa, kakak, abang dan zay, sesaat setelah sholat Idul Fitri dan beberapa saat sebelum boyongan ke Sumedang.

Say Cheezzzzz!

Idul Fitri memang waktu yang sangat menggembirakan. Bahkan si kecil Zay pun bisa mengendus aroma kegembiraan itu dan memberikan senyum terbaiknya. Say cheezzz...

Air Terjun "Curug Orok" Garut Jawa Barat

Papa dan Zay yang masih bayi 3 bulan alias masih pantas disebut orok berpose di depan lintasan air terjun orok. Dingin. Tapi alhamdulillah Zaydan ketawa-ketawa dan pulangnya tidak sakit.

Satu...Dua...Tiga....

Memanfaatkan masa rihlah bersama sahabat-sahabat, papa, mama, kakak, abang dan zay menikmati segarnya udara di air terjun curug orok, Garut. Alhamdulillah.

Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC

Bersama rekan-rekan wartawan saat melakukan kunjungan "foreign press tour" ke USA, sempat mampir ke Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC.

Monday, January 14, 2013

Asyiknya di Sekolah

Untuk masa-masa tertentu, ternyata pergi ke sekolah itu asyiiik loooh

 Mari kita bersiap
 Eh, poto-poto dulu sama emaknya si eneng dan si eneng
 sampe di sekolah, nyobain ayunan, si eneng masih leyeh-leyeh ajeh
 akhirnya si eneng ikutan, asyik juga kan
 yun ayun ayun ayun
 udahan ah
 sekarang naik tangga
 eh, eh, eh kakak dah selesai sekolah-kah? wooo bukaaan, tapi lari dari kelas, hehehe
sementara itu emaknya si eneng ternyata cuman asyik wasap-an. hyaaaaah dasar!

Gigi Geraham Zaydan

Tanggal 10 Januari 2013
Baru ngeh kalau gigi Zaydan yang geraham sudah tumbuh 6 butir sodara-sodara :D
yang di bawah, kiri kanan masing2 satu
yang di atas, kiri kanan masing2 dua
tentu saja, karena baru nongol semua baru keliatan ciliiiiiik mentiiiiik banget
tahunya pas dia lagi nangis keraaaaaas sekali. Huaaaaaaa huaaaaaaa huaaaaaaa, gitu kira-kira


Wednesday, October 17, 2012

Kami Pun Kini Terkotak-kotak

Tren kotak-kotak melanda Jakarta!
Dimulai dari Jokowi, calon Gubernur Jakarta (waktu itu) yang membuat kotak-kotak jadi ngetren dan tahu-tahu jadi dimintai banyak orang.

Cuma bukan karena itu juga sih kalau tren ini lantas menyusup ke rumah kami. Sampai menerobos ruang tidur malah! Tetapi ini lebih diakibatkan karena si emak lagi butuh seprei baru. Dan juga karena emak ini sesungguhnya dari dulu kepingin kuliah kedokteran tapi nggak kesampean sehingga sebagai kompensasinya hingga saat ini bersikukuh menerapkan teori-teori ilmu hematologi secara praktis dalam keseharian (halaaaah muter-muter, bilang aja senangnya ngirit alias pengen baru en bagus harga murah! hihihi) maka keluarga kami pun jadi terkotak-kotak.

Itulah asal muasal bagaimana kita jadi punya barang baru dengan motif kotak-kotak. Soalnya setelah keliling di pasar kaget Kalibata dengan agenda "resmi" beli topi Zay, backpack Abangtiti, dan ketupat sayur padang, mata si emak melihat seprei dan ingat pada "kebutuhan" seprei baru.


Tanya punya tanya, pilih punya pilih akhirnya keputusan ditetapkan pada si seprei kotak-kotak yang kinclong ini. Harganya oke juga, 40 rebu saja sodara-sodara. Kualitasnya lumayan baik. Alias gak gatel, gak kasar dan gak berbulu. Udah standar baik untuk batasan seprei nyaman kan?

tetapi kenapa mesti yang kotak-kotaaaaaak? rame pula warnanya!
Eh, kok sewot, hihihihi, terserah sayah dong mau beli yang manah. Meskipun sebenarnya awalnya saya sempat naksir yang motif shaun the sheep dan kemudian sempat juga lebih naksir pada yang motif bunga-bunga warna marun.

Tetapi kemudian, si emak ingat bahwa di kamar tidur *yang cukup kecil dengan ukuran kasur nggak standar alias 140* bantal yang tersedia cukup banyak. 4 bantal biasa, dua bantal cinta besar dan satu bantal cinta kecil, Ih, penuh amat yak. Nah, itu berarti dibutuhkan sejumlah besar sarung bantal dong *plus tidak butuh sarung guling karena gapunya guling*

Mengingat standarnya seprei tu cuman dua, maka motif shaun the sheep atopun bunga marun agak sulit dimatchingkan dengan sarung2 bantal polos yang selama ini sudah dimiliki dan ternyata setelah diingat-ingat warnanya adalah: hijau, biru dan kuning.

Karena itulah sodara-sodara maka akhirnya dengan mantap dan yakin emak pun menunjuk pada si seprei kotak-kotak ceria beraneka warna itu dan membawanya pulang dan mencucinya dan menjemurnya dan memakainya malam itu juga (ya, benar sekali, step menyetrika di-skip :D)

Ternyata semua happy dengan kehadiran si seprei baru ini. Termasuk Zay yang jadi penghuni pertama "pencicip" si kotak-kotak. Dengan demikian, seiring dilantiknya Jokowi jadi Gubernur DKI Jakarta periode 2012- 2017, kami pun menerima kehadiran si kotak-kotak di ruang tidur kami.

Horeeee! Alhamdulillah




Tuesday, October 16, 2012

Spa Kok Aneh Banged

Di jalan sekarang suka ada orang bagi-bagi secuil informasi. Kenapa saya bilang secuil karena ukurannya memang kecil mungil. itungannya bukan leafleat dong ya. Brosur juga bukan. Stiker pun bukan karena ternyata gak ada bagian lengket buat nempelnya itu *ih, bahasanya mendasar banged haha*

Tapi, bukan itu poin yg mau diceritakan, tapi poin isi si "informasi" ini yang bikin dooooh.

Itu cuilan kerta ternyata adalah iklan. iklan spa *kalau lihat dari kata-katanya*. Spa, 2 Jam, 65 rebu. Murah dong tuh. Boleh juga ya?


Eeeits, jangan salah. Tapi ini sepertinya musti diwaspadai. Sebab iklan spa-nya rada aneh, "seram" gitu. Soalnya pakai gambar wanita muda berpose "gimana" gitu ya dengan gaya "mengundang" plus tambahan kata-kata seperti: Sekali lirik, OK sajalah. Juga kalimat: Cari tahu ada apa disini...


Lah...lah...lah spa apa ini kok pake "undangan misteri" begini. Ancurrr deh. Syereeem gitu loh. Mana itu dengan hebohnya dibagi-bagikan di perempatan lampu merah kepada para pengemudi baik motor, mobil bahkan juga pejalan kaki di pinggir-pinggir trotoar.

Waktu ada yang bagikan, langsung saya ambil dan simpan. Buat booking spa? ih, ya nggaklah. Tapi justru buat disharing disini. Agar semua waspada. Soalnya spa ini buatku spa aneh aja. Begitu nggak menurut Anda?

Friday, October 05, 2012

Sungguh Terlalu !

Yang terlalu memang suka keterlaluan. Aaarrrgh, begitulah. Terlalu banyak makan. Terlalu banyak tidur. Terlalu  banyak  begadang. Terlalu keterlaluan. Aaarrrghh.

Saya ternyata terlalu banyak mikir. Mau bikin tulisan dipikir-pikir. Enaknya apa ya, mulainya gimana. Trus, gambarnya apa. Trus eh, ini font bagusnya dibuat kecil atau besar ya. Trus…trus…setting layoutnya kelihatan enak dibaca apa gak ya?

Aarrrrgggh….

Akhirnya jadi kebanyakan mikir. Tahu-tahu jatah waktu habis. Teeettt…jam pulang datang *bukan beneran pakai bel sih, tapi pakai tilpun dari si penjemput galak, yang kalau  kelamaan nunggu  nunggu suka komplen dikerubut nyamuk hahaha, luv you hon!*

Begitulah. Calon tulisannya sih banyak. Mungkin udah dua setengah karung. Tapi ya itu tadi. Suka kebanyakan mikir. Jadi deh, nggak jadi-jadi. Sungguh terlalu. Aaaaarrrrrgh!

Tuesday, October 02, 2012

7 Tahun di Kelas Menulis




Tidak terasa sudah lebih 7 tahun mengajar kelas menulis yang dinamakan kelas "writing club" di SDIT Al-Hikmah. Rasanya sih baru kemarin gitu, diminta mengajar anak-anak "piyik" nan lucu dan imut itu. Tapi ketika kemarin ini bertemu salah seorang murid yang tahu-tahu sudah jadi anak SMA, waduuuh baru nyadar kalau sudah tua eh maksudnya sudah lama juga menjadi guru :D

Meski gak mudah mengajar di level SD ini *hmmm...nanti deh saya buat posting tersendiri soal ini* tapi jelas lebih banyak senangnya. Betapa senangnya melihat antusias murid-murid kecil ini dalam belajar. Dan betapa terhiburnya hati ini dengan beragam ekspresi yang mereka sampaikan.

Oh ya, soal ekspresi ini, adalah hal yang mungkin sudah jadi "icon" di kelas writing club. Anak-anak sudah hafal betul dengan beberapa kata mendasar di kelas menulis ini, diantaranya: ekspresi, detil, dan berani.

Ya, sebab kelas menulis yang kuasuh ini memang bukan kelas untuk "menyihir" kemampuan anak-anak menjadi jagoan menulis, tetapi lebih sebagai upaya untuk (awalnya) mendorong anak-anak mampu mengekspresikan apa yang mereka tahu, mereka rasa, mereka lihat, mereka dengar, mereka khayalkan dan mereka yakini ke dalam bentuk tulisan.

Maka, tulisan menyon-menyon, tanpa tata bahasa, bahkan tanpa keindahan imaji *wow, bahasanya* tetap bisa memperoleh nilai baik. Sebab, ekspresi diri mereka yang bisa dipindahkan dalam bentuk tulisan saja sudah sangat saya hargai.

Kenapa?

Karena seiring waktu mengajar, saya mendapati, permasalahan mendasar dari anak-anak kita agaknya bahwa mereka rata-rata tak mampu mengekspresikan apa yang mereka rasakan, mereka tahu, mereka khayalkan dan mereka yakini. 

Mungkin ini karena faktor pembiasaan. Mungkin juga karena masalah budaya. Dimana orang Indonesia katanya cenderung tidak ekspresif dan malu-malu dalam mengungkapkan pemikiran pun perasaan mereka. Atau mungkin juga karena pengalaman mengajarkan anak-anak betapa mengekspresikan diri ternyata kerapkali tidak menguntungkan secara sosial. Misalnya karena diejek (ingat bagaimana kalau kita mengacungkan jari untuk menjawab, teman-teman spontan akan berteriak cieeeeeeeee atau bahkan wuuuuuuuuu yang sontak membuat nyali menjadi ciut)

Itulah sebabnya, di awal-awal mengajar, saya tidak membicarakan bagaimana menulis cerita, pendapat atau bahkan sekedar "pengalamanku di waktu libur". Saya hanya meminta mereka mengekspresikan diri mereka dengan menyebutkan soal diri mereka. Apa yang mereka suka, yang mereka tak suka, kelebihan diri mereka, juga hal-hal yang berkenaan dengan perkenalan diri.

Dari sini saja saya sudah bisa melihat betapa masih banyak anak yang gamang dengan soal apa yang saya suka dan apa kelebihan diri saya. (mereka sangat banyaaak bertanya tentang ini). Dan pada akhirnya saya juga kerap sering tersenyum membaca hasil tulisan mereka.

Saya berharap, dimulai dari mereka mampu mengekspresikan diri, kemudian memindahkan pengetahuan, perasaan, khayalan, keyakinan mereka akan sesuatu dalam bentuk tulisan, mereka mampu mengenali diri mereka, membuka wawasan mereka, memupuk kepercayaan diri dan hup, akhirnya juga mampu menulis.


Wednesday, September 05, 2012

Sekretarisku

Kalau lagi bekerja, suka banyak hal tahu-tahu muncul di kepala *kadang juga di telinga atau di memo hehe* menjadi semacam noise -gangguan kecil- yang kalau tidak segera diurus bisa bikin kerjaan terganggu: entah itu sekelumit ide, ingatan janji, tugas, shop list *misalnya daftar belanja popok, sabun dan sejenisnya*, wish list, to do list sampai must read *hasil kesasar saat blogwalking*

Dulu suka tergopoh-gopoh ambil kertas dan pulpen. Sekarang juga masih dilakukan, tapi kadang. Alias sudah gak terlalu sering. karena sekarang ada "sekretaris" yang lebih bikin kerjaku jadi lebih praktis. Thx to Mbak Gim dan Mas Pon.

Jadi, kalau segala noise muncul di kantor saat lagi nongkrong depan kompi. Mbak gimel langsung turun tangan. Segala noise ini langsung kuketik di gimel dan kukirim balik ke diri sendiri, kadang kalau dirasa cukup layak disharing dibagi pula pada beberapa orang yang berkepentingan.

Kalau lagi di jalan, seperti di mobil, di taksi, di bus atau di motor, giliran Mas Henpon yang pegang peranan. Semua noise dicatat pada "note" bahkan kadang *supaya gak lupa, apalagi yang penting* disms atau diimel lagi-lagi ke diri sendiri. 

Hmm. Mudah, praktis, cepat. Sip deh pokoknya.
Paling2 tinggal satu persoalan lanjutannya: gimana cara mengerjakan segala noise tadi, terutama soal to do list, must read sampai wish list itu :D kalau shop list sih...biasanya kesampaian, hehehehe



Monday, August 20, 2012

Heboh Ied 1433 H






Wednesday, August 15, 2012

Perjalanan

dari rumah dan kembali ke rumah...





Tuesday, January 10, 2012

Thx Allah, For Everything

Sungguh. banyak alasan bisa disebut kalau mau membuat hari-hari mendung di Jakarta jadi bertambah gelap. Baju yang baru saja diambil dari penjahit ternyata kekecilan. Padahal sang penjahit mengukur badan saya langsung dan bukannya sekedar berpatokan pada contoh baju jadi yang biasa dipakai. Dan jumlah bajunya lumayan banyak, empat. Dan bahannya bagus-bagus pula. Sedih, mangkel, kuciwa. Ya pastilah....

Lalu urusan memindahkan sekolah anak dari satu wilayah ke wilayah lain di sesama Jakarta ternyata memusingkan, melelahkan, menjengkelkan, menguras emosi dan menguras kantong! Si abang yang selama ini sekolah di Jakarta Barat sana -amboi jauhnya- harus berangkat jam 10 pagi dan tiba di rumah selepas isya alias kira-kira jam 20. Itu juga kalau nggak pake acara ketiduran karena terlalu lelah yang menyebabkan abang terbangun di halte busway nun jauh di sana dan harus berbalik.

Jadi begitulah, berbekal prasangka baik -dan surat edaran dari diknas bahwa pindah sekolah itu mudah dan cepat- si Abang dipindahkan. Satu dua sekolah yang didatangi memberi isyarat tak bisa menerima karena peminat pindah lebih banyak dari jumlah bangku kosong. satu dua sekolah lain memberi isyarat bisa diterima setelah menilai ini dan itu. Tetapi persamaan dari semua sekolah (yang ironisnya memasang spanduk besar-besar dan lebar-lebar di halaman sekolah: Menyelenggarakan Pendidikan Bebas Pungutan) ini adalah: ada "biaya" mutasi yang jumlahnya jut-jut rupiah dan benar-benar bikin jut-jut hati juga :c

Ada lagi soal rumah bocor. Oh, biasa menurut Anda? ah, nanti dulu. Rumah bocor memang biasa. Tapi persoalannya atap rumah berikut talang-talangnya baru saja dibenahi alias dibetulkan tukang (karena masalah bocor juga) kira-kira hmmm...enam? lima atau empat bulan yang lalu. Dananya waktu itu sudah jut-jutan juga. Masak sih sekarang harus renovasi lagi? aaaarrrrrgggghhh

Eh, rupanya itu ada kaitannya sama kucing. Ya kucing se RT dan mungkin se RW yang entah bagaimana ceritanya agaknya bermufakat bahwa rumah saya -atap dan loteng-loteng tepatnya- adalah kawasan strategis untuk mereka berkumpul, reuni, saling bersosialisasi termasuk bertengkar dan kawin!

Kucing-kucing ini sukses menggeser, meretakkan hingga merontokkan genteng, menjebol langit-langit, meninggalkan hasil pupnya di halaman dan menjumpalitan pot-pot bunga saya hingga tanaman berikut tanah dan pupuknya terbongkar dan berserakan di teras depan rumah. ggggrrrr...

Lanjut.  pekan lalu saya beli baju secara online untuk si bayi 6 bulan. Baju merek tertentu yang diincar sizenya kecil buat tubuh si bayi. Sehingga biasanya saya beli satu size diatasnya. jadi kalau perlu size 6 saya harus ambil size 9. Sudah saya tulis lengkap-lengkap di mail pada si penjual online. Berikut beberapa mainan lucu. Tetapi apa mau dikata, begitu hari H tiba, datanglah ke rumah saya mainan lucu dengan baju pesanan yang ber-size 3! TIGA! Hwaaaa

Tapi itu belum seberapa. Keesokan harinya, pesanan mainan dari toko online lain datang lagi. Mengantarkan seekor gajah lucu bertipe pull and go, yang artinya tentu saja dipull bisa go! hehe. Di belakang si gajah, tepatnya digerobaknya tempat bersandar, ada semacam tali penarik. Begitu ditarik....krrrrrkkkk.....lalu srrrrrrrr si gajah meluncur lincah. Kereeen. Lucuuuuu. Si bayi pun tertawa penuh minat sambil meninggikan badan dalam posisi tengkurap ala ular kobra.
Lalu datanglah anak-anak tetangga kira-kira sejam setelah si gajah datang. Mereka sangat antusias melihat si gajah dan mulai berebut. si Kakak Kia dan si Atu Adik kemudian mulai menariki tali si gajah. Kkkkkkrr.... srrrrrrr.......krrrrrkkk......srrrrrrr bergantian. Sampai kemudian si kakak yang antusias itu menarik si tali gajah kuat-kuat, kkkkkkrrrrrrrrrrrrrrrrrkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk......  sssrt! lho! macet! si gajah cuma ngesot sedikit lalu berhenti. Dan setelah itu sang gajah pun berhenti dari kemampuan "go"nya karena sudah di "pull" dengan maksimal. Hyaaaaaaaaa.

Percayalah saudara-saudara. Mendung bisa semakin menghitam karena kejadian ini cuma terjadi di pekan lalu. Beruntun-runtun. Bertumpuk-tumpuk. Belum termasuk tumpukan pekerjaan di kantor dan tumpukan cucian baju dan tumpukan setrikaan lho yaaaaa.

Oh, rasanya ingin berteriak, marah-marah, lempar kursi *lebay* dan manyun tiga hari tiga malam. Tapi....eh...hmm...tahu-tahu mikir.Tenang...tenang...sabar...sabar...kalau berteriak dan marah apakah bocornya jadi mampet? nggak . Apa gajahnya jadi maju. Nggak. Apa bajunya jadi longgar. Mungkin kalau karena sedih terus gak napsu makan terus jadi  kurus *ngarep. Apalagi manyun tiga hari pasti nggak enak. Nggak enak dilihat dan nggak enak dijabaninnya.

Ya iyalah. Selain ada adik bayi yang super lucu, dan ganteng dan keren dan menggemaskan itu, kalau mau fair, masih banyyaaaaaaaaaaaaaaaak hal indah lain yang patut dikenang dalam pekan yang mendung dan muram ini. Oke, tugasku sekarang adalah mencoba tarik nafas dan mengingat-ingat segala yang indah itu. Apa ya?

Satu: bahwa si abang toh akhirnya akan sekolah di sekolah yang cukup dekat dari rumah. sehingga tidak kecapekan dan makan banyak ongkos. sip. Dua: di kulkas ada tiga botol bumbu dasar siap pakai yang memudahkan banget kalau mau masak dan itu adalah hasil bikinan sendiri dari selama 15 tahun cuma niat doang mau bikin. sip. Tiga: Bos pulang dari dinas ke Riau dan Papua dan membawakan kain khas Riau dan Papua. sip. Empat: Adik bayi senang mainin si gajah terutama gigit hidungnya :D. sip. Lima: Kakak sudah pintar goreng ayam dan bikin sayur bayam. sip. Enam: Abang rajin cuci piring dan beberes rumah. sip. Tujuh: Kulkas sekarang sudah bisa bikin es batu mengeras. sip. Delapan: USB nenek yang hilang ketemu. sip. Sembilan: dua dari 4 baju yang kekecilan dibeli kakak tertua. sip. Sepuluh: musim hujan yang membawa hawa dingin sudah datang tapi miagliaku nggak kambuh. siiiip.

Wah, meski ini baru sebagian hal yang juga terjadi bersamaan di pekan lalu tapi semua sudah bikin senyum mulai merekah.Memang, soal sekolah itu masih harus tetap diurus. Baju juga perlu dipermak. Genteng bocor pastilah harus ditambal dan si gajah. Yah yang penting rodanya masih muter, bisa untuk didorong-dorong.

Tapi setidaknya saya mulai membiasakan diri untuk bisa mencari segala macam keindahan dan nikmat yang Allah berikan, sesuntuk apapaun situasi saya pada suatu masa. Saya tahu saya tidak bisa menghilangkan duka, sedih, marah atau kecewa saat suatu situasi tidak berjalan sempurna atau tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Tapi berlama-lama murung mendung jelas tidak enak dan tidak memberi solusi juga. Jadi inilah cara saya, berusaha memilih sikap terbaik dalam menghadapi hal-hal yang "buruk". Harapannya kalau suasana hati lebih cerah kan lebih mudah mencari pemecahan masalah.

So, baju sempit, rumah bocor, sekolah resek, mainan rusak. Itu fakta. Kenyataan. Tetapi ya Allah, terima kasih bahwa masih banyak hal lain yang membuat hidup tetap bisa terlihat indah. Alhamdulillah...



Tuesday, December 27, 2011

Nikmat Juga

Ini bukan berita baru sih. Soal macet di Jakarta yang saya maksud. Tapi sepertinya semakin hari semakin edan deh. Masak siy perjalanan dari Senayan ke Mampang saja sekarang harus ditempuh dalam waktu 2 jam. Parah banget kan. Macetnya yang nggak kira-kira itu juga ngeselin karena sebenarnya cuma terjadi di lokasi yang pendek-pendek tapi makan waktu lhuammma.

Mula-mula macet itu bermula dari depan Hotel Mulia sampai ujung Senayan sebelum belokan ke arah Pakubuwono. setelah itu boleh dibilang lumayan lancar jaya. Tapi kemudian macet lagi dari Mabes Polri sampai Terminal Blok M. Lalu lancar jaya lagi sampai senopati. lalu mhuacheeeet lagi sampai Mampang. Dan ini macet yang bener-bener ampun-ampunan....

Tapi, setelah merasa ingin ngedumel panjang pendek keki ampir tiap hari, sambil nyadar bahwa toh gak bakal bikin jadi lancar juga, mulai pekan lalu, saya langsung bertekad bulat *yah belum bulat banget sih, masih peyang dikit, karena kadang masih sedikit kesal, hehe* untuk bisa mencari jalan menikmati kemacetan ini. 

menikmati kemacetan? atau pasrah?

haha, pasrah mah udah pasti kaleee...tapi menikmati kemacetan? hmmm... ini baru tantangan...

maka, tekad pertama pun diwujudkan. Sayang mulai hampir tergoyahkan karena bis yang dinanti tak kunjung datang setelah 20 menit. Hyaaaaa.... saya tidak mau kalah oleh cobaan ini. Begitu ada bis 102 rute tanah abang blok m, saya nekat naik saja. yang penting ada kata-kata BLOK M nya kan.

waktu saya naik bis 102 ini dan tidak dapat duduk *alamak....baru mulai mau kepingin menikmati kok sengsara* saya berucap bismillah dan pasang senyum. Eh, serius, ternyata senyum bikin rasa sengsara sedikit berkurang. setidaknya saya dah merasa yakin dan mantap bahwa macet sambil berdiri ini toh akan berlalu juga. jadi nikmati sajalah.

Saya melihat ke kiri-kanan. Wah, orang itu macam-macam ya bajunya. Yang perempuan apalagi. Ada yang tampil formal dengan blazer atau dress rumbai, ada yang casual berjeans plus kemeja, sampai yang pakai naju ketat-celana ketat *duh saya sampai khawatir kalau dia turun dari bis yang makin lama kok ya makin penuh ini bajunya bisa robek kena gesek

Lalu saya mulai memperhatikan para pemakai jilbab. baik yang di bis maupun yang di jalan. Nah, gaya jilbabnya pun macam-macam. Dililit di leher, dililit di kepala, jilbab berlapis-lapis warna di ujung kepala, jilbab berlapis-lapis warna di pundak, jilbab dengan bordiran, jilbab dengan payet, jilbab dengan kepangan, jilbab dengan bendul seperti punuk di belakang kepala, jilbab kaos polos, sampai jilbab kaos dengan macam-macam variasi. 

Yah, tentu saja saya tahu bahwa jilbab itu ada banyak macamnya. Gini-gini kan saya pedagang jilbab untuk puluhan tahun *ah, lebay, 13 tahun tepatnya deh*. Tapi dengan serius dan sungguh-sungguh melihat jilbab yang melekat di kepala orang-orang dan menikmati keunikannya sepertinya ya jarang sih. Oh ya, hebatnya lagi, sebagian jilbab itu bahkan ada "namanya" lho. ada jilbab marisa, inneke, marshanda, jilbab cinta fitri, jilbab ayat-ayat ciinta, jilbab arshanty....halaaaaaaaaaaaaaah banyak kaliiiii

Sedang menikmati baju-baju dan jilbab-jilbab ini,  naik seorang perempuan dari depan senayan city. Perempuan muda dengan baju kemeja semi formal *ada rumbai-rumbainya dan rok selutut yang rapi ditambah tas bahu yang cantik. Hmmm....kayaknya sih ini yang bisa disebut gaya pekerja kantoran gitu. Tapi bukan itu yang buat saya jadi seru, melainkan tangannya yang asyik mendekap semangkok besar yogurt keluaran soursally yang sedikit demi sedikit disendoknya dengan asyik.

Eh, ini beneran lho. di bis yang penuh sesak. sehingga dia hanya bisa berdiri di tangga terbawah dekat pintu, sang perempuan muda ini dengan tabahnya memegang mangkok yoggurt dan mencuil sedikit demi sedikit. repot? ya....lumayanlah, namanya berdiri di tangga terbawah. tapi dia cuek saja tuh. tidak terpikir untuk meninggalkan yogurtnya *mungkin sayang, atau laper- dan tidak juga terpikir untuk bagi-bagi :D jadi dia asyik saja hap melahap sesendok yogurt. kunyem-kunyem-kunyem...hap...sesendok lagi. wuih

Bis melaju terus. kali ini belok kanan karena rutenya memang menuju mayestik. ah, lebih jauh dari rute biasanya. tapi tak apa. kan sudah berteked ingin menikmati. maka saya pun asyik melihat rumah-rumah dan toko-toko di pinggir-pinggir jalan. besar-besar ya. yang kecil juga ada sih. tapi yang jelas hampir semuanya cantik. Nah, saya jadi tahu kalau di sepanjang jalan menuju mayestik itu ada toko kue, resto kecil, salon, juga minimarket circle-K. 

Saat memperhatikan ke jalan yang macet berat itu saya juga bisa melihat bagaimana beberapa satpam toko atau resto malah asyik main catur, atau duduk-duduk ngopi atau malah nonton televisi. begitu pula beragam-ragam laki-laki dan perempuan *termasuk yang membawa anak* berdiri berjajar-jajar menawarkan diri untuk jadi joki 3in1

Dan oh ya, hebatnya di tengah macet berat dan polusi dari asap-asap knalpot kendaraan, masih ada bule nekat yang terus jogging dengan mantapnya. semakin lama penampakan si bule makin mengecil *karena jauh meninggalkan kita. Dan saya pun berpikir, mungkin mereka yang berkantor di senayan dan "cuma" menuju terminal blok m mendingan memilih jogging aja kali ya. waktu tempuhnya sama aja sepertinya dibanding naik bis yang ndut-ndutan kena macet :p 

tahu-tahu saya sampai di mayestik dan turun untuk ganti kendaraan. wow, ternyata gak terlalu berasa tuh macet-macet tadi. saya bisa menikmatinya dengan hati senang dan bibir terus tersenyum. apalagi kemudian bis lanjutan yang ingin saya naiki kosong, hanya diisi sekitar 10 orang saja. jadilah saya naik dengan sukacita. meluruskan kaki dan menikmati sekali lagi keriuhan Jakarta yang semakin gelap....

Wednesday, December 21, 2011

Anak anak Kita Dalam Bahaya; Ayo Tolong Mereka

Ini berawal dari sebuah keprihatinan. Sepulang sekolah pada hari Kamis (tapi entah kapan, saya ingat hanya Kamisnya saja) anak saya yang bersekolah siang tiba di rumah di waktu Isya.  Sambil melepas lelah, anak saya melihat tayangan televisi. Tak lama dia bercerita bahwa yang dilihatnya tadi acara bernama On The Spot. Lupa-lupa ingat sepertinya saya pernah sekali menonton acara ini yang menayangkan 7 Pulau Buatan Ter---- entah terbesar atau termewah atau terbaik atau apalah, lupa juga.

Sayangnya episode yang ditonton anak saya tidak seindah itu, mengerikan malah, karena menyajikan episode 7 Remaja Pembunuh Tersadis. Ya, anda tidak salah baca, dan karena itu saya yakin anda sepakat ketika saya memilih kata ‘mengerikan’.

Anak saya mau menceritakannya satu demi satu, tetapi baru satu bagian –saya tidak tega menceritakannya kembali- saya sudah bilang, “STOP, jangan lanjutkan. Mama ngeri mendengarnya, ayo kita sama-sama mengucapkan naudzubillahi min dzalik” Saya dan kedua anak remaja saja merapalkan doa itu. Dan saya menambahkan doa yang secara khusus saya tujukan pada anak-anak saya agar terhindar dari fitnah, maksiat dan marabahaya.

Jantung saya langsung berdebar-debar keras, karena kata remaja saja dikaitkan dengan kata pembunuh sepertinya sudah keterlaluan tidak matchingnya apalagi ditambah dengan kata sadis, makin membuat perut ini terasa melilit. Mungkin terutama karena saya punya anak remaja, sehingga setiap hal yang berkait dengan keanehan-keanehan perilaku remaja membuat saya semakin mudah mengkerut jiwa.

Saya tak suka diceritakan soal tayangan itu. Menakutkan dan tidak memberi kelegaan di tengah hidup yan terasa semakin sulit –dengan masalah korupsi, lingkungan rusak, sedot pulsa, macet parah, ancaman banjir, aaaarrrrrgghhhh…..

Dua jam kemudian di hari Kamis yang sama, suami yang sedang membuka halaman detik dotcom terkejut dengan satu berita dan menuturkan pada saya. Berita itu membuat suami saya prihatin dan saya kembali merasa mengkerut jiwa. Diberitakan seorang remaja lelaki usia 16 tahun, pelajar SMK, menebas dengan clurit  seorang remaja putri hingga akhirnya remaja putri itu tewas dalam perjalanan ke rumah sakit (kalau mau cek beritanya, ubek saja sendiri detik dotcomnya ya)

Ketika ditangkap, sang remaja penebas itu mengaku  salah sasaran karena sebenarnya dia bermaksud menebas remaja lelaki yang sedang memboncengkan si korban. Dia menyebut bahwa sang remaja lelaki yang dia incar adalah musuh bebuyutan sekolahnya. 

Maka malam itu saya lewatkan dengan perasaan campur aduk yang berkecamuk di dalam dada dan kepala. Saya merasa seperti mau menangis, saya mau marah, saya ingin berteriak dan sekaligus saya ingin memeluk anak-anak saya erat-erat. Ya Allah, ada apa dengan anak-anak kami, remaja-remaja kami di Indonesia… mereka yang pastilah dibuai sepenuh cinta di kala bayinya dan diharap-harap menjadi penerus terbaik para orangtuanya kok nyatanya tumbuh menjadi “monster-monster” yang menakutkan…

Berkaca pada kasus penebasan tadi, entah si pelaku salah sasaran atau tepat sasaran, bukan itu persoalannya. Tapi bahwa sang anak sekolah bawa-bawa clurit – ya, dia menebas dengan clurit- yang sudah disiapkan. Bahwa dia sudah mengincar sesosok remaja lain –manusia dengan ruh, jiwa dan raga- milik Allah. Bahwa dia mengatakan si incaran adalah berasal dari sekolah musuhnya. Bahwa tidak peduli siapa dan ada urusan apa, kalau itu anak sekolah X maka itu musuh gue karena sekolah X musuh sekolah gue. Sekolah punya musuh?
Naudzubillah, tsumma naudzubillah….

Saya jadi flashback, dan terpaksa memutar ingatan yang tadinya ingin coba dilupakan –setidaknya tidak sering-sering diingat. Tahun 2010 lalu keponakan saya masuk SMA favorit. Yang sedihnya juga dikenal sering terlibat tawuran. Tapi kakak saya berprasangka baik. Bahwa itu masa lalu. Dan menambah prasangka baik bahwa “setiap tahun toh anak didik berganti, masa iya musuhan lagi, sekarang sudah lebih baik dong, kan anak-anaknya sudah ganti” 

Dan kemudian dia menambah lagi prasangka baik bahwa insyaAllah anaknya tidak akan ikut tawuran karena sudah dibekali segala upaya seperti penjelasan, pengertian, pemahaman, nasihat, doa-doa dan bekal sekolah dasar dan menengah yang baik.

Maka keponakan yang menghabiskan masa SD di SD Islam Terpadu, masa SMP di Pesantren Terpadu, dan lulus dengan 8 juz hafalan quran ini memulai SMAnya di SMA Negeri favorit ini. Mulanya baik-baik saja sampai satu ketika dia menelepon bahwa dia ada di rumah sakit. 

Hah? Kecelakaan? Bukan. Dia mengantar temannya yang sakit. Sakit karena kepalanya ditimpuk batu.

Ya. Teman keponakan itu sedang berjongkok menanti bus untuk pulang sekolah ketika serombongan siswa –begitulah, banyak kejadian melibatkan “serombongan”, “sekumpulan”, apapun yang berujung keroyokan- datang dan kemudian salah seorang dari mereka menimpukkan batu yang lebih besar dari kepalan tangan, ke kepala si teman keponakan.
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Ya, teman ponakan ini tergeletak dan dan karena banyak orang datang segerombolan anak-anak penimpuk itu lari. Keponakan saya yang masih ada di sekitar situ datang menolong dan setelah mengontak beberapa teman membawa sang korban yang akhirnya ketahuan mengalami gegar otak dan sempat koma beberapa waktu lamanya- ke rumah sakit. Sedihnya, mereka sempat ditolak rumah sakit swasta terdekat karena mereka tidak bawa uang –ya saudara-saudara, mereka harus bayar uang 400 ribu sebelum si korban yang sudah pingsan begitu ditangani-

Beberapa hari kemudian, tepatnya 15 Juni tahun lalu, kali ini sang keponakan yang pulang dengan kepala, dada dan punggung luka-luka. Berdarah-darah. Di kepalanya bahkan ada luka menganga sepuluh senti panjangnya. 

Innalillahi wa inna ilaihi rojiuuuun. Ada apa? Ikut tawuran?
Tidak, sampai detik ini alhamdulillah dia tidak pernah ikut tawuran. –seperti tawuran itu lomba balap karung atau panjat pinang saja!-

Tapi yang ada, ketika dia menuju terminal bus –dan dia memang pulang sendirian- serombongan siswa yang tidak jelas siapa -kenal saja tidak, apalagi sempat punya masalah- mendatanginya dan mengeroyoknya begitu saja. Begitu saja. Keponakan saya hanya bisa menunduk terjongkok, menerima hantaman bertubi-tubi menderanya. Sampai orang-orang termasuk pak polisi datang menolong. Dimana kejadian itu? Kejadian itu berlangsung di siang hari, dan persis di depan terminal yang ramai dan bahkan tak jauh dari pos polisi-

Mereka yang menolong ya hanya menolong sang keponakan. Alhamdulillah ‘ala kulli haal, meski si penyerang yang kabur berpencaran entah kemana tak ada satupun yang tertangkap. Pak polisi pun hanya berkata bahwa anak-anak yang menyerang itu dari sekolah X, yang suka berantem dengan sekolah keponakan saya. Pak polisi ini lantas meminta keponakan saya untuk segera pulang, jangan mampir-mampir dulu.

Keponakan saya tentu saja pulang. Mau kemana lagi dengan punggung berdarah-darah dan luka menganga di kepala? Rumah sakit bukan pilihannya saat sendiri itu. Dia hanya terpikir: rumah.  dia pakai jaket warna gelap, sehingga barulah ketika di rumah dan meneliti lekat-lekat kita bisa melihat jelas luka-luka di punggung, dada dan di kepalanya yang sudah mengering.

Jiwa kakak saya mengkerut. Saya juga, padahal hanya diceritakan. Sempat kami akan lapor polisi. Tapi lha, kan siang itu juga si anak bahkan sudah dari pos polisi. Yang menolong juga polisi. Kami lantas hanya jadi geram-geram bingung plus resah, kira-kira begitulah.

Ketika esoknya kakak saya mendatangi sekolah dan menceritakan kejadiannya, jawaban yang didapat  dari gurunya membuat  terpana, karena dikatakan: Wah…anak ibu dipukulin ya? Tapi nggak apa-apa kan? Si Fulan –dia menyebut nama salah satu teman lain si keponakan- malah dibacok kemarin Bu…jadi kita memang harus hati-hati Bu, pulang pergi sekolah diantar saja. Malah anak-anak yang baik-baik dan pendiam tuh yang memang suka kena… #terhibur? Jelas tidak!

Sahabat, saya menuliskan ini dengan hati pedih, marah juga nelangsa.
Yang kita bicarakan ini anak-anak kita. Yang pada pundak merekalah nanti dipikulkan beban masa depan. Ketika anak-anak ini menjadi “monster” di usia muda, betapa mengerikannya wajah masa depan bangsa kita. Atau ketika anak-anak lainnya berhadapan dengan para “monster”,  juga sama mengerikannya masa depan bangsa kita –dan bahkan masa depan anak-anak korban “monster” itu sendiri-

Tapi saya masih percaya kalau semua anak itu pada dasarnya baik. Orangtua –dan lingkunganlah- yang membuat mereka jadi nakal, brutal, rusak, atau jadi “monster”. Lingkungan bermain, lingkungan sekolah, lingkungan media, lingkungan birokrasi, lingkungan umum lainnya.

Mungkin mereka dibesarkan dengan ketidakpedulian orangtua, kemiskinan cinta, kemiskinan penghargaan, kemiskinan sentuhkan kasih sayang, galaknya guru, mudah marahnya orangtua, persaingan keras tanpa kesantunan para pedagang, caci maki di televisi, baku hantam di komik, sentimen berbalur umpatan kebencian antar organisasi –sepakbola misalnya- ketidakjujuran birokrasi dan banyak lagi dan sering lagi

Ah, apapun, saya hanya ingin menjeritkan kata hati saya sebagai ibu, bahwa anak-anak kita dalam bahaya dan harus ditolong. Baik yang sedang dizalimi maupun yang sedang menzalimi. Sebagaimana Rasulullah pun berkata, “tolonglah saudaramu, baik yang terzalimi maupun yang menzalimi.”

Yang terzalimi ditolong agar selamat dari kezaliman. Yang menzalimi harus ditolong agar berhenti dari kezalimannya.

Anak-anak kita tidak bisa dibiarkan terus hidup dalam ketakutan dan “kesakitan”. Kita perlu orang-orangtua peduli yang mau bahu membahu menyelamatkan mereka. 

Mungkin kita sudah berupaya menyelamatkan anak kita, tapi itu tidak cukup. Kita juga perlu peduli menyelamatkan anak-anak orang lain, yang akhirnya juga akan berimbas pada selamatnya anak-anak kita. 

Kita harus memperbaiki diri kita, lingkungan kita, tetapi juga harus saling menolong. Saling mengingatkan. Saling berhubungan. Mungkin membangun komunitas orangtua yang bisa saling memberi informasi, saling menguatkan, dan saling menjaga anak-anak kita. 

Di sekolah, komite sekolah baru diisi segelintir orangtua murid sebagai perwakilan. Mungkin sudah saatnya perlu ada pertemuan rutin orangtua pertiga bulan misalnya, untuk saling kenal, saling sapa, saling tukar informasi. 

Komunitas orangtua ini pun perlu pula beranjangsana, setidaknya bertukar informasi, salam dan sapa dengan komunitas orangtua lain dari lain tempat, lain sekolah, atau lain wilayah.
Kalau dengan fesbuk saja kita bisa punya sekian ribu kenalan berbeda-beda, para orangtua remaja pun semestinya bisa kan saling berpadu mendidik anak bersama-bersama.

Atau ada ide lainnya? Yang jelas, anak-anak ini sesungguhnya tengah berteriak minta tolong. Tinggal bagaimana caranya kita bisa menjawab permintaan mereka. Sebelum semakin banyak kisah ngeri lain akan kita dengar menjadi berita…

Tuesday, December 20, 2011

Bayi Abad 21

Nabila lahir di tahun 1997
Shidqi lahir di tahun 1999

bersama si papa kita menikmati hidup berempat
"Seperti keluarga burung" -------- itu kata my lovely mom
Mom agaknya kerap melihat burung-burung di sarang yang punya anak hanya dua
*padahal banyak lho burung beranak 5, hehehe*

Sampai akhirnya, 
Zaydan datang, di tahun 2011

Waw, what a surprise! 
hehehe
serunya
lucunya
menggemaskan


Welcome, ahlan wasahlan, selamat datang
Zaydan Rahman Al-Kautsar
inilah si bayi abad XXI


 




Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More